Pacitan (beritajatim.com) – Harga biji kakao kering di Kabupaten Pacitan mulai mengalami penurunan. Dari sebelumnya mencapai Rp110 ribu per kilogram, kini turun menjadi Rp90 ribu per kilogram. Meski demikian, harga tersebut masih tergolong tinggi dan tetap menguntungkan bagi petani.
“Memang ada penurunan harga, tapi masih di angka ideal,” ujar Samsuri, Ketua Kelompok Tani Setyo Maju, Sabtu (7/11/2025).
Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung, merupakan salah satu sentra utama kakao di Kabupaten Pacitan. Saat ini, luas areal perkebunan kakao di desa tersebut mencapai sekitar 137 hektare, dan sebagian besar petani tengah memasuki masa panen.
Namun, dalam proses pengolahan hasil panen, petani di Gawang masih mengandalkan cara tradisional. Pengeringan dan fermentasi biji kakao dilakukan secara manual, sehingga berdampak pada kualitas dan nilai jual produk.
“Selama ini kami masih pakai cara tradisional. Dengan adanya alat dari pemerintah ini, kami berharap mutu biji kakao bisa meningkat dan harganya lebih bagus,” terang Samsuri.
Sebagai upaya meningkatkan mutu dan produktivitas, Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan, Jawa Timur, menyalurkan bantuan berupa 4.000 bibit kakao klon MCC 02 dan Sulawesi 1, 6 unit mini solar dryer portable, 6 kotak fermentasi, serta 2 alat pemasta biji kakao. Total ada 16 kelompok tani di Desa Gawang yang menerima bantuan tersebut.
Bantuan bibit kakao akan digunakan untuk meremajakan tanaman tua, sementara peralatan pasca panen diharapkan mampu meningkatkan kualitas hasil produksi. (tri/kun)






