Magetan (beritajatim.com) – Petani jagung di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tengah mengalami kekecewaan besar. Saat memasuki masa panen raya, harga jagung justru mengalami penurunan drastis.
Sebelumnya, harga jagung berada di kisaran Rp5.000 per kilogram, namun per Senin (07/10/2024), harga turun menjadi Rp4.500 per kilogram. Per Rabu (09/10/2024), sudah turun sampai Rp4.450 per kilogram. Kondisi ini dirasa sangat merugikan, mengingat biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani terus meningkat.
Samin (55), seorang petani dari Desa Pragak, Kecamatan Parang, menjelaskan bahwa tren penurunan harga sudah mulai terlihat sejak awal panen. Harga jagung yang sebelumnya stabil di Rp5.000 per kilogram, kini turun hingga Rp4.500 per kilogram saat masa panen berlangsung.
“Harga ini tidak mencukupi biaya produksi, terutama untuk kebutuhan air,” ungkap Samin, Rabu (09/10/2024)
Dia menyebutkan bahwa salah satu faktor meningkatnya biaya adalah karena air dari Waduk Gonggang sudah tidak mengalir, sehingga para petani terpaksa menggunakan pompa air sumur untuk mengairi lahan.
“Situasinya makin sulit, apalagi sekarang mendekati Pilkada. Ironisnya, harga komoditas pertanian malah terus menurun. Kasihan petani kalau hanya dijadikan komoditas politik,” lanjutnya.
Samin berharap agar pemerintah segera turun tangan melindungi petani dari tekanan harga yang dimainkan oleh tengkulak.
Rohman, seorang petani dari Desa Bajarpanjang, Kecamatan Ngariboyo, turut merasakan dampak buruk dari penurunan harga yang signifikan ini. Menurutnya, harga jagung yang jatuh di bawah Rp5.000 membuat petani kesulitan untuk memperoleh keuntungan.
“Situasi ini sangat berat bagi kami. Tahun lalu, harga jagung masih mencapai Rp6.000 per kilogram, tapi sekarang malah turun jauh. Jika di bawah Rp5.000, jelas kami merugi,” ujar Rohman.
Dia menambahkan, harga Rp4.500 per kilogram tidak cukup untuk menutupi biaya produksi yang semakin tinggi, seperti biaya pengolahan lahan, pupuk, pestisida, dan terutama air yang menjadi kebutuhan paling besar dalam pertanian.
Petani jagung di Kabupaten Magetan berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi masalah harga ini. Mereka menilai, perlindungan terhadap petani sangat mendesak, terutama di masa panen raya seperti sekarang. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini dikhawatirkan akan semakin memperburuk kesejahteraan petani, membuat mereka semakin terpuruk dalam kondisi ekonomi yang sulit. [fiq/aje]







7 Komentar
Ini bukan salah tengkulak, yang salah tetep pemerintah yang mendatangkan import terus menerus… Tidak ada komiditas pertanian dengan harga baik sekarang, entah itu jagung, gaplek semua hancur
Semua permainan mereka2 yg berkuasa.
Bagaimana mau berkembang jika import terus diutamakan, dimana caranya sejahtera jika rakyat sendiri di kesampingkan.
Katanya tanah kita tanah surga, tapi nyatanya negara ini dikuasai negara lain.
PAK MOLODOKO KEMANA YG YURUH ANAK MUDA BERTANI LIHAT PAK MOLDOKO MADIUN 3300 HARGA JAGUNG
KEPUTUSAN ANAK MUDA MENINGGALKAN JEJAK ORANG TUANYA BERTANI ADALAH KEPUTUSAN TEPAT DAN SANGAT TEPAT
PEMERINTAH TIDAK PERNAH MEMBERI PAYUNG HUKUM UNTUK PETANI TERKAIT HARGA.
Kab madiun malah 3300 Pemerintah Bangsat..mana pak moldoko yg minta anak muda disuruh jadi petani..petani yg sudah ada tidak bisa di lindungi.
Keputusan generasi muda untuk meninggalkan dunia pertanian itu adalah keputusan sangat sangat tepat…
Jelang musim pilkada dan transisi pemetintahan..para pejabat terkait dan pemangku kebijakan kayaknya gak sempat ngurusi harga komoditas pertanian.
Saya juga baru tahun ini terjun didunia pertanian, hasil panen g sebanding sm biaya penanaman perawatan
Petani jagung di lampung jg merugi harga panen tidak sesuai dgn biaya produksi jangankan bayar tenaga kerja buat mengembalikan modal bibit, pupuk dan pestisida saja tidak mencukupi