Ringkasan Berita:
- Lebih dari 6.000 hektare sawah di Ponorogo memasuki panen raya April-Mei 2026.
- Harga gabah mencapai Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram, melampaui harga acuan pemerintah.
- Produktivitas panen diperkirakan stabil di kisaran 6,5 hingga 8 ton per hektare.
- Infrastruktur irigasi dan program pertanian modern menjadi penopang utama hasil panen.
Ponorogo (beritajatim.com) – Panen raya di Kabupaten Ponorogo pada April hingga Mei 2026 membawa berkah besar bagi petani setelah harga gabah menembus Rp7.500 per kilogram, bahkan mencapai Rp7.700 per kilogram di sejumlah wilayah.
Kondisi ini membuat ribuan petani di Bumi Reog menikmati keuntungan lebih besar di tengah panen lebih dari 6.000 hektare lahan sawah yang tersebar di berbagai kecamatan.
Sebaran panen meliputi Kecamatan Sukorejo, Sampung, Kauman, Badegan, Babadan, Jambon, hingga Jenangan yang menjadi sentra produksi utama padi di Ponorogo.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dispertahankan Ponorogo, Tri Budi Widodo, menyebut sebagian petani telah mulai memanen lebih awal, terutama di wilayah barat dan utara.
“Banyak yang sudah mulai panen, khususnya di wilayah barat dan utara,” ungkap Budi, Rabu (6/5/2026).
Produktivitas pertanian tahun ini diprediksi tetap stabil karena tanaman relatif aman dari serangan hama, dengan hasil rata-rata mencapai 6,5 hingga 8 ton per hektare.
Di sektor hilir, penyerapan hasil panen juga berjalan lancar. Pengusaha penggilingan padi aktif membeli gabah petani dengan kapasitas sekitar tiga ton per hari.
Harga gabah yang melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram memberikan tambahan margin keuntungan signifikan bagi petani.
Selain pengusaha lokal, Perum Bulog juga turut menyerap gabah hasil panen sehingga distribusi berjalan lancar tanpa penumpukan.
Keberhasilan panen raya Ponorogo tak lepas dari dukungan penggunaan varietas unggul, sistem irigasi mandiri, serta infrastruktur pengairan seperti Waduk Bendo, Telaga Ngebel, dan Dam Sungkur.
Program listrik masuk sawah dan sistem pompanisasi (sibel) juga dinilai efektif menjaga pasokan air, terutama saat musim kemarau.
“Program listrik masuk sawah dan sibel untuk pengairan dalam juga cukup membantu petani untuk meningkatkan produksi pertaniannya,” jelasnya.
Salah satu petani asal Kecamatan Sukorejo, Erna Aminin, mengaku hasil panennya langsung diserap pedagang dengan harga lebih tinggi dari rata-rata pasar.
“Beberapa hari lalu, memang harga kering panen Rp7.500 per kilogram. Namun, saya kemarin sudah naik lagi di harga Rp7.700 per kilogram, alhamdulillah,” pungkas Erna. [end/beq]






