Malang (beritajatim.com) – Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional Kota Malang mengalami kenaikan signifikan menjadi Rp135 ribu per kilogram akibat lonjakan permintaan selama Ramadan dan kembalinya aktivitas mahasiswa di kampus. Kenaikan harga sebesar Rp15 ribu dari harga normal tersebut mulai dirasakan masyarakat di Pasar Besar dan Pasar Sawojajar dalam dua pekan terakhir.
Sebelumnya, harga komoditas hewani ini berada di level stabil yakni kisaran Rp120 ribu hingga Rp122 ribu per kilogram. Tren kenaikan harga ini tidak hanya menyasar daging murni, namun juga merembet ke bagian sapi lainnya seperti jeroan dan kikil.
Penjual daging di Pasar Sawojajar, Anis, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini terjadi secara menyeluruh pada semua bagian sapi. Meskipun harga merangkak naik, ia bersyukur karena volume penjualan hariannya masih bertahan di angka 25 kilogram.
“Harga daging sapi normal Rp120 ribu sekarang Rp135 ribu. Kenaikan harga daging sapi diikuti semuanya yang serba sapi. Mulai dari jeroan, kikil, dan lainnya,” kata Anis, Rabu (4/3/2026).
Mayoritas pembeli di lapak milik Anis merupakan pelanggan setia yang membutuhkan daging untuk konsumsi rumah tangga harian. Konsumen tetap melakukan pembelian meski harus merogoh kocek lebih dalam demi memenuhi kebutuhan nutrisi selama bulan suci.
“Kalau harga naik pengaruhnya ke dagangan lain ikut naik. Kalau ke penjualan tidak (turun). Biasanya sehari jual 25 kilogram harga naik masih standar. Pembeli rata-rata untuk konsumsi pribadi,” ujar Anis.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, menegaskan bahwa pasokan daging di wilayahnya saat ini masih aman. Distribusi daging sapi ke pasar-pasar tradisional di Kota Malang sangat bergantung pada aktivitas pemotongan di Rumah Potong Hewan (RPH).
Dalam operasional harian, RPH memotong sekitar 30 hingga 40 ekor sapi untuk mencukupi kebutuhan protein hewani masyarakat. Pihak dinas terus memantau ketersediaan stok agar tidak terjadi kelangkaan di tengah meningkatnya minat beli.
Slamet menjelaskan terdapat dua faktor utama yang memicu fluktuasi harga daging sapi di awal Maret ini. Momen Ramadan mengubah pola makan masyarakat yang kini lebih aktif menyiapkan menu takjil serta sahur secara mandiri di rumah.
“Momen ramadan biasanya tidak masak lalu membuat takjil dan sahur sehingga permintaan tinggi. Lalu aktivitas teman-teman mahasiswa yang mulai aktif masuk kuliah,” kata Slamet.
Kehadiran kembali ribuan mahasiswa di Kota Malang turut memberikan pengaruh besar terhadap serapan konsumsi pangan di sektor kuliner. Peningkatan aktivitas mahasiswa ini mendorong permintaan daging sapi di berbagai warung makan dan penyedia jasa boga di penjuru kota. [luc/beq]






