Magetan (beritajatim.com) – Harum semerbak tercium hidung ketika melangkahkan kaki di ladang Desa Sidomulyo, Sidorejo, Magetan. Tepatnya di ladang milik Sarni, 56, warga setempat.
Ratusan batang bunga mawar berjajar rapi di kebun seluas sekitar 5.000 meter persegi itu. Kebun berbentuk terasering itu ditanami bunga mawar merah yang bisa dipanen tiap hari. Baik pagi maupun sore hari dengan total sehari panen lebih dari 30 kilogram.
Tak sendirian, Sarni dibantu tetangga dan saudaranya untuk memetik bunga mawar. Berkebun bunga mawar sudah dilakoninya sejak lima tahun silam. Selain biaya perawatan dan pemeliharaan lebih murah dan mudah. Hasilnya pun lebih banyak ketimbang ditanami sayur mayur seperti sebelumnya.

Mawar hanya butuh peremajaan setahun sekali. Sisanya hanya memupuk dan semprot hama sebulan sekali. Kemudian hanya mengatur pemetikan agar tunas bunga tetap berkembang. ‘’Harus setangkai sampai pangkalnya, dan harus bunga yang sudah menunduk, karena besoknya pasti sudah rontok,’’ kata Sarni, saat ditemui di ladangnya di desa setempat, Senin (28/3/2022).

Saat menjelang Ramadhan dan Lebaran, dia bisa meraup untung sampai sekitar Rp 4,5 juta dalam sehari. Paling mahal, mawar bisa mencapai Rp 200 ribu per kilogramnya. Dan akan bertahan sampai dua hari setelah Lebaran. Barulah harga turun lagi. Paling murah sampai Rp 5.000 per kilogram. Jika tak musim ziarah.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ramadan”]
”Saat ini harga mawar mencapai Rp 125 ribu per takar yang setara dengan 1,2 kilogram. Kenaikan harga sudah terjadi sejak dua hari ini. Sebelumnya hanya sekitar Rp 50 ribu per takar, kini sudah naik terus. Kemungkinan akan naik terus sampai Ramadan dan lebaran,” katanya.
Sarni bersyukur, harga mawar yang tinggi membuatnya meraup keuntungan. Tak hanya dirinya, mayoritas warga Sidomulyo turut bertanam mawar sehingga mereka bisa mendapat untung banyak saat menjelang Ramadan dan Syawal. [fiq/but]






