Pasuruan (beritajatim.com) – Harga kedelai di Kota Pasuruan kembali naik. Kenaikan ini mulai merangkak pada awal bulan Oktober 2022 lalu.
Kenaikan harga kedelai ini dirasakan pula oleh para pembuat tempe di Kota Pasuruan. Salah satunya yakni Zainul Muttaqin (43) pembuat tempe asal Kampung Rekesan, Kelurahan Pekuncen, Kota Pasuruan.
Zainuk sapaan akrabnya mengatakan bahwa kenaikan harga kedelai bermula saat bahan bakar minyak naik. Kenaikan harga kedelai ini bervariasi, paling tinggi hingga mencapai Rp 500 dan terus merangkak naik.
“Naiknya paling banyak Rp 500, kadang Rp 100, Rp 50, tapi naik terus hampir tiap hari. Tapi harganya gak pernah turun, semakin ke sini semakin naik dan mahal harganya,” ujar Zainul.
Saat ini harga bahan baku kedelai sudah naik hingga Rp 14.000 per kilonya. Kenaikan ini mencapai dua kali lipat dari tahun 2020 lalu yang berkisar Rp 7.000 per kilo.
Sebelumnya Zainul mengungkapkan pada bulan kemarin harga kedelai masih di angka Rp 12.000. Kenaikan harga ini membuat Zainul dilema dalam menaikkan harga tempe yang dibuatnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”harga-pangan”]
Karena belum lama ini dia sudah menaikkan harga tempe menjadi Rp 2.500 ukuran kecil. Sedangkan untuk ukuran besar Zainul mematok harga sampai Rp 25.000.
“Mau naikkan juga kasihan pelanggan banyak yang ngeluh. Apalagi belum sampe setahun harganya baru saya naikkan,” jelasnya.
Zainul tidak menutup kemungkinan jika kedepannya dia terpaksa menaikkan harga tempe atau mengurangi ukuran. Apalagi jika harga kedelai tidak kunjung turun. [ada/but]






