Magetan (beritajatim.com) – Para petani sayuran di Kabupaten Magetan kini berada dalam kondisi terjepit akibat perpaduan harga komoditas yang anjlok drastis, cuaca ekstrem, hingga serangan hama yang masif. Situasi sulit ini merata dialami oleh para petani di sentra sayur lereng Gunung Lawu sejak awal pekan Februari 2026.
Pantauan di Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, menunjukkan tanaman cabai rawit rusak parah akibat hama patek yang merajalela selama empat bulan terakhir. Buah cabai tampak busuk di lahan sebelum mencapai masa panen raya yang sangat dinantikan oleh warga.
Kondisi serupa dialami cabai merah keriting yang mengering serta tanaman sawi besai yang berlubang akibat serangan hama jendel. Fenomena ini menyebabkan penurunan hasil produksi secara signifikan dan mengancam keberlangsungan ekonomi rumah tangga petani.
Kerugian finansial semakin nyata karena harga cabai rawit terjun bebas dari Rp70 ribu menjadi kisaran Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Penurunan paling menyakitkan terjadi pada sawi besai yang harganya jatuh dari Rp10 ribu menjadi hanya Rp1.000 saja per kilogram.
Supriyadi, salah satu petani di Plaosan, mengaku anjloknya harga dan cuaca buruk menjadi persoalan utama yang mereka hadapi saat ini. “Masalah utama itu iklim, kemudian harga juga anjlok. Petani tidak pernah dilibatkan, termasuk saat harga cabai turun seperti sekarang,” ujarnya.
Suratno menambahkan bahwa cuaca buruk memaksa petani mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli obat-obatan pengendali hama di tengah ketidakpastian harga. Peningkatan modal produksi ini tidak sebanding dengan nilai jual hasil panen yang saat ini berada di titik terendah.
“Cuaca ini yang paling buruk. Modal jadi tambah banyak buat beli obat, tapi harga justru anjlok,” keluh Suratno mengenai beban ganda yang harus ia pikul. Hal ini membuat banyak petani mulai putus asa menggarap lahan mereka karena pendapatan yang tidak menentu.
Petani Magetan juga menyayangkan minimnya pelibatan mereka dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya bisa menjadi solusi penyerapan hasil panen lokal. Padahal, kualitas sayuran dari Magetan dikenal sangat kompetitif dan layak untuk memenuhi kebutuhan gizi nasional.
Sejumlah pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru kedapatan mendatangkan pasokan sayur dari Kediri hingga Wonosobo karena alasan harga yang lebih murah. Langkah tersebut dianggap mencederai semangat pemberdayaan petani lokal di tengah hantaman krisis iklim.
Para petani kini mendesak adanya kebijakan konkret dari pemerintah daerah maupun pusat untuk menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan pasar. Pelibatan dalam program strategis nasional dianggap sebagai satu-satunya cara agar nasib petani di Jawa Timur tidak semakin terpuruk. [fiq/beq]






