Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah suhu panas Mojokerto yang membuat ayam stress, seorang mahasiswa Untag Surabaya menemukan solusi cerdas. Berawal dari proyek Kuliah Kerja Nyata (KKN), Wahyu Enggar Jati menciptakan sistem berbasis IoT yang kini terbukti ampuh meningkatkan produktivitas peternakan.
Inovasi ini lahir dari keluhan yang ia dengar langsung dari para peternak mitra. Suhu kandang yang melonjak membuat ayam mengalami stres termal, ditandai dengan napas tersengal-sengal dan nafsu makan yang merosot tajam. Kondisi ini secara langsung memangkas jumlah telur yang dihasilkan, dan menjadi masalah yang tak kunjung selesai.
Enggar mencatat, sebelum alatnya terpasang, produksi telur di kandang mitra hanya 23 kilogram per hari. Setelah sistemnya bekerja, produksi telur menjadi lebih stabil di angka 25 kilogram per hari. Kenaikan 2 kilogram per hari ini, meskipun terlihat kecil, sangat berarti bagi peternak kecil.
Enggar menamai sistemnya ‘Cek Kandangku’ karena dirancang untuk mempermudah peternak memantau kondisi kandang dari jarak jauh.
Menggunakan mikrokontroler sebagai otak, alat ini terintegrasi dengan berbagai sensor, seperti sensor suhu DHT22, sensor amonia untuk mendeteksi gas berbahaya, dan sensor ultrasonik untuk memantau ketinggian air.
Keunggulan utama dari alat ini adalah kemampuannya untuk diakses secara real-time melalui sebuah website. Dengan begitu, peternak bisa mengawasi kondisi lingkungan kandang kapan saja dan dari mana saja, sehingga memberikan kemudahan dalam mengambil keputusan.
Proses pembuatan ‘Cek Kandangku’ terbilang cepat, hanya memakan waktu sekitar dua minggu. Enggar mengaku hal ini karena ia sudah merancang setiap langkahnya dengan matang sejak KKN. “Dari KKN, saya sudah terpikir step by step-nya, butuh ini, butuh ini, jadi sudah tertata,” jelas Enggar, Jumat (22/8/2025).
Meskipun masih dalam tahap prototipe, alat ini sudah terbukti membantu peternak mitra Enggar. Ke depannya, ia berharap bisa menyempurnakan sistem ini dengan mengganti beberapa sensor agar berskala industrial.
Selain itu, ia juga berencana untuk mengembangkan sistem kontrol otomatis untuk kipas dan memproduksinya secara massal. “Sebenarnya sistem ini bisa dikembangkan kayak kontrol kipas secara otomatis juga,” ungkapnya.
Cek Kandangku ini bukan sekadar alat, melainkan bukti bahwa inovasi sederhana dari kampus bisa membawa dampak nyata bagi kesejahteraan peternak lokal.
Ke depannya, inovasi ini diharapkan bisa menjadi solusi massal yang menguntungkan, tak hanya untuk peternak mitra Enggar, tetapi juga seluruh peternak di Indonesia. [ipl/but]






