Jember (beritajatim.com) – Hanan Attaki, pendakwah kalangan anak muda milenial dan generasi Z, bicara soal jomblo ahlusunnah wal jamaah (aswaja), dalam pengajian di masjid Pondok Pesantren Riyadlus Sholihien, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (2/6/2023) malam.
“Siapa jomblo-jomblo ahlussunnah waljamaah? Ada jomblo ahlussunnah wal jamaah, ada yang bukan,” kata Hanan yang menjadi bintang tamu dalam pengajian yang diasuh tokoh Nahdlatul Ulama, KH Mushoddiq Fikri Farouq alias Gus Fikri, atas undangan Yayasan Nusa Bangsa Indonesia.
“Bedanya apa? Seorang ahlussunnah wal jamaah dalam konteks jomblo adalah mereka yang mencari jodoh dengan belajar dan meminta barokah kepada para kiai. Jadi bukan cari jodoh di internet, bukan cari jodoh pakai aplikasi. Tidak mencari jodoh ke MiChat,” kata Hanan, disambut tawa hadirin.
Hanan mengaku tahu hal-hal tersebut bukan berdasarkan pengalaman pribadi. “Saya seorang peneliti dunia anak muda,” katanya.
Menurut Hanan, seorang anak muda aswaja yang belum menikah akan datang menemui ulama untuk meminta nasihat maupun doa. “Jadi jomblo yang aswaja datang ke kiai minta nasihat, bimbingan, doa, dan rido mereka. Ini tutorial para jomblo aswaja,” katanya.
Hanan berpesan kepada anak-anak muda agar mencari jodoh tidak berdasarkan foto penampilan fisik wajah saja di media sosial. Foto yang ditampilkan di media sosial tidak selalu kondisi sesungguhnya. “Ketika kita semua tertarik, lalu ketemu orangnya, ternyata di-prank,” katanya.
“Sebelum kalian mencintai calon pasangan kalian, belajar dulu untuk mencintai para ulama. Belajar dulu mencintai para kiai. Belajar dulu mencintai para fuqaha, orang-orang yang fakih dalam agama. Kenapa? Mencintai mereka adalah petunjuk dari Allah SWT,” kata Hanan.
Gus Fikri pun menyeletuk. “Tapi yang perempuan jangan mencintai saya, sebab saya sudah ada yang punya. Kalau mencintai Ustaz Hanan Attaki tidak apa-apa,” katanya.
Hanan pun buru-buru menyahut. “Sama Kiai, saya juga sudah ada yang punya. Kalau viral, bisa bahaya. Lebih mudah viral,” katanya disambut tawa hadirin.
Hanan kemudian bercerita tentang Imam Al Ghazali, penulis kitab masyhur Ihya’ulumuddin. “Ternyata ayah Imam Al Ghazali sangat mencintai ulama. Duduk dalam majelis para ulama, duduk dalam majelis para ahli fikih, dan bahkan menyerahkan apapun yang bisa membuatnya bisa berhikmat kepada para ulama. Padahal ayah Imam Al-Ghazali ini seorang yang fakir, tidak punya apa-apa,” katanya.
Setiap kali mendengar nasihat para ulama tentang fikih, ayah Imam Al-Ghazali menangis. “Beliau berdoa: ya Allah, berikan saya anak lelaki sefakih ini. Beliau pindah ke majelis ulama hikmat, menangis lagi dan berdoa. Karena khittahnya kepada para ulama, Allah mengabulkan doa ayah Imam Al-Ghazali,” kata Hanan.
Hanan mengingatkan kepada anak muda untuk mencari jodoh yang beriman dan berakhlak baik. “Jomblo aswaja mencari jodoh tidak di situs online. Mencari jodohnya di pesantren,” katanya.
Gus Fikri kemudian menambahkan, jika pesantren adalah tempat terbaik untuk belajar banyak hal, termasuk dalam mencari jodoh. “Kalau ingin melihat ikan dalam kolam, bersihkan dulu airnya sebening kaca. Kalau anda ingin belajar agama mendalam, pesantrenlah tempatnya,” katanya. [wir]






