Jember (beritajatim.com) – Berusia satu abad lebih, perserikatan Muhammadiyah telah melakukan gerak dakwah yang mencerdaskan, yakni menjadikan agama sebagai alat untuk membangun pemahaman umat. Muhammadiyah tak ingin hanya elite yang maju, sementara umat tertinggal.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, Muhammadiyah bergerak agar umat terdidik, tahu hak dan kewajiban, serta mandiri. “Kalau umat itu bodoh, yang untung elitenya. Kenapa? Diapa-apakan mau. Diajak ke selatan ikut, diajak ke utara ikut. Tapi itu tidak membangun peradaban maju. Elitenya maju, elitenya sejahtera, elitenya hebat-hebat, tapi umatnya tertinggal. Elitenya mendunia, bicara besar-besar, tapi umatnya tertinggal,” katanya
“Islam mengajarkan kepada kita, agar umat kita ini berada di atas. Kata pepatah: organisasi atau umat yang tak punya apa-apa, tidak akan bisa memberi apa-apa. Yang ada mungkin minta apa-apa,” kata Haedar.
Baca Juga:
Muhammadiyah: Indonesia Butuh Persatuan Dewasa
Dalam gerakan itu, Muhammadiyah mendukung kolaborasi dengan semua pihak. “Itu yang disebut ukhuwah, karena kita tidak bisa membangun sendiri,” kata Haedar, dalam peresmian Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (11/3/2023).
Muhammadiyah menyadari tantangan yang dihadapi berat. “Terutama dalam pemahaman keagamaan. Pemahaman keagamaan kita ini semangatnya tinggi sekarang. Yang umrah dan haji luar biasa. Semangat ibadah dan semangat gerakan jemaah luar biasa. Tapi kalau tidak disertai pemahaman keislaman yang utuh, mendalam, menyeluruh, boleh jadi kita hanya dapat: berislam kembangnya saja. Tidak sampai ke substansinya,” kata Haedar.
Baca Juga:
Rumah Sakit dan Universitas Muhammadiyah Pranata Satukan Bangsa
“Kenapa kita dijajah terlalu lama, karena masyarakat kita memperoleh ajaran yang tentang kembangnya saja,” lanjut Haedar. NU, Muhammadiyah, dan semua kekuatan Islam semestinya kembali pada wasathiyah Islam, atau Islam realistis yang menciptakan perdamaian, toleransi, tapi juga kemajuan.
“Tidak cukup Islam damai, tidak cukup Islam toleran, tapi Islam tertinggal, yang lain maju. Muhammadiyah ingin Islam harus selalu hadir pada setiap keperluan zaman, keperluan masyarakat,” kata Haedar. [wir/but]






