Malang (beritajatim.com) – Ancaman krisis global yang meliputi sektor ekonomi, pangan, dan energi menjadi sorotan utama dalam pidato kebangsaan pada penutupan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Dua tokoh nasional, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Menteri Desa PDTT Yandri Susanto, mengajak para kader IMM untuk berkolaborasi secara nyata dalam menghadapi tantangan besar ini.
Acara yang bertemakan “Energi Kolektif Untuk Negeri” ini berlangsung di UMM Dome, Malang, pada Jumat (31/10/2025). Dalam kesempatan itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memaparkan betapa penuh ketidakpastian kondisi dunia saat ini, yang dapat berdampak langsung pada stabilitas dalam negeri, terutama dalam sektor ekonomi, pangan, dan energi. Ia mengingatkan bahwa ketiga masalah tersebut bisa dengan cepat memicu permasalahan sosial di Indonesia.
“Kita lihat PDB Global saat ini posisinya masih stagnan. Inflasi global juga sama, masih tinggi dan ini berdampak kepada situasi di dalam negeri,” ujar Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Meskipun situasi global menunjukkan kondisi yang tidak mudah, Kapolri menegaskan bahwa Indonesia berada dalam posisi yang cukup baik berkat kerja sama kolektif yang solid di dalam negeri.
“Alhamdulillah dengan berbagai upaya dan kerja bersama, kalau kata Pak Menteri tadi kerja tim, bukan superman tapi super team, maka Indonesia hari ini masih berada di angka-angka yang cukup bagus,” tambahnya, memberikan gambaran optimisme terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Untuk menghadapi tantangan ini, Jenderal Listyo Sigit menekankan bahwa Presiden Indonesia telah menyoroti ketahanan pangan sebagai prioritas utama dalam rangka mengurangi ketergantungan pada impor. Salah satu langkah yang diambil Polri adalah meluncurkan program pemanfaatan lahan untuk penanaman jagung yang memiliki potensi besar di tanah air.
“Polri memiliki potensi lahan yang bisa ditanam kurang lebih 1.195.000 hektare. Saat ini baru tertanam 566.000 hektare,” ungkap Kapolri, sambil mengundang mahasiswa IMM, yang telah dikenal dengan program seperti Brigadi Pangan dan Tani Jati, untuk berkolaborasi dalam program ini.

“Silakan untuk menghubungi para Kapolda. Di tempat kami juga ada yang namanya Satgas Pangan, sehingga ini bisa kita satukan menjadi program yang sama-sama bisa kita laksanakan,” ajaknya, berharap para mahasiswa IMM dapat memberikan kontribusi besar dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto juga menyampaikan ajakan serupa. Ia menegaskan pentingnya aksi kolaborasi konkret, dengan fokus membangun dari desa.
Yandri menjelaskan bahwa sebagian besar program prioritas Presiden Prabowo berfokus pada pengembangan desa, termasuk Koperasi Desa Merah Putih, Desa Ekspor, dan Desa Wisata.
“Kami mengajak mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, ayo sama-sama kita kembali ke desa. Boleh tinggal di desa tapi pendapatan mengalahkan (yang di kota),” serunya, memberi motivasi kepada mahasiswa untuk turut serta dalam mengembangkan potensi desa.
Menurut Yandri, fenomena urbanisasi yang telah terjadi di negara-negara seperti Jepang dan Korea, di mana penduduk desa meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari kehidupan di kota, harus dihindari agar desa tetap produktif dan bisa memberikan kemakmuran bagi warganya.
“Kolaborasi ini adalah implementasi dari Astacita keenam Presiden, yaitu membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan,” tandasnya.
Dalam rangka mendukung program tersebut, Kementerian Desa telah melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang diwakili oleh Rektor Prof. Dr. Nazaruddin Malik. MoU juga telah ditandatangani dengan Kapolri, dan tak lama lagi diharapkan bisa segera terjalin MoU dengan mahasiswa untuk memperkuat kolaborasi ini.
Sebagai penutup, Yandri mengingatkan bahwa kolaborasi ini sangat penting untuk menciptakan perubahan yang lebih baik bagi Indonesia, sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk berperan aktif dalam membangun ketahanan nasional, terutama di sektor-sektor vital seperti pangan dan ekonomi. [dan/suf]






