Surabaya (beritajatim.com)– Meski perhitungan belum resmi selesai dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu belum mengumumkan secara resmi pemenang Pilpres namun hasilnya sudah dapat diraba yakni kemenangan Prabowo Gibran. Menanggapi hal ini Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla yang akrab disapa Gus Ulil menegaskan jika kekuatan oposisi nantinya berperan sangat penting sebagai penyeimbang dalam pemerintahan Prabowo-Gibran.
Atas konstelasi politik ini, Gus Ulil optimis demokrasi di negeri ini akan berlangsung menarik karena kemungkinan bakal ada pihak oposisi yang kuat sebagai penyeimbang pemerintahan Prabowo-Gibran mendatang.
Pihak oposisi imbuhnya akan menjadi kuat sebagai penyeimbang pemerintahan Prabowo-Gibran itu adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengusung Anies-Muhaimin, serta Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan sebagai pengusung Ganjar-Mahfud.
“Artinya suara dia (PDIP) kalau digabungkan dengan suara PKS itu lebih dari 25 persen, itu ideal sekali kan. Kalau ditambah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) misalnya, atau ditambah partai lain bisa 30 persen bahkan 35 persen,” katanya melansir YouTube portal resmi Nahdlatul Ulama Senin (19/2/2024).
Gus Ulil menegaskan oposisi yang kuat sangat dibutuhkan, hal ini karena di dalam masa pemerintahan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin ada hal-hal yang kurang bagus sebagai negara demokrasi, salah satunya sangat kurang peran pemberi kritik terhadap pemerintah.
“Ada hal yang kurang bagus pada masa Pak Jokowi kemarin, saya paham, yaitu kurangnya kekuatan-kekuatan pemberi kritik yang signifikan, baik di dalam parlemen maupun di luar parlemen, (oposisi) itu lemah,” ujar Gus Ulil.
Gus Ulil mengatakan bahwa keseimbangan antara pihak koalisi di dalam pemerintahan dengan pihak oposisi sangat bagus di dalam negara demokrasi. Namun, Gus Ulil menyangsikan sikap pasangan capres-cawapres terpilih terhadap kekuatan oposisi.
“Tetapi ini tantanganya, apakah pemenang pemilu saat ini nanti akan sabar menghadapi adanya posisi seperti ini,” ujarnya. [aje]






