Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya Bidang Ilmu Penyakit Baru Prof Soedarsono membeberkan gagasannya soal peran kampus dalam penanggulangan penyakit tuberkulosis alias TB di Indonesia.
Dalam orasi ilmiahnya berjudul ‘Tridarma Perguruan Tinggi dalam Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia’, Prof Soedarsono menyebut jika ada kaitan erat antara tridarma perguruan tinggi dengan tuberkulosis.
“TB merupakan penyakit menular yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di sebagian besar negara di dunia termasuk Indonesia selama berabad-abad,” ujar Prof Soedarsono, Rabu (25/10/2023).
Menurutnya, meskipun sudah ada banyak kemajuan dalam dunia medis, TB masih menjadi ancaman kesehatan global. “Ini saatnya kita semua, sebagai bagian dari masyarakat ikut berperan aktif dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini,” katanya.
Baginya, tridarma perguruan tinggi dan tuberkulosis terkait erat satu sama lain. Implementasi tridarma perguruan tinggi memiliki potensi besar dalam mendukung tujuan program penanggulangan TB di Indonesia yaitu Eliminasi TB 2030.
Ia mengungkapkan, Indonesia menjadi negara dengan kasus TB terbesar kedua di dunia setelah India. Tidak hanya beban TB, Indonesia juga memiliki beban tinggi dalam kasus TB disertai infeksi HIV, dan TB resistensi obat ganda sejak 2016 dan diprediksi tetap menjadi beban sampai tahun 2025.
Karena itu, Prof Soedarsono menilai jika dokter pada masa depan yang unggul atau yang memiliki kualitas bintang lima harus memiliki 5 bakat, dan mengambil perannya sebagai, pertama sebagai penyedia layanan.
“Yang menganggap pasien secara manyeluruh sebagai individu dan sebagai bagian dari keluarga dan komunitas, dan yang memberikan perawatan berkelanjutan berkualitas tinggi dalam hubungan dokter-pasien berdasarkan rasa saling menghormati dan percaya,” jelasnya.
Kedua, pengambil keputusan. Yakni, yang memilih teknologi mana yang akan diterapkan untuk meningkatkan pelayanan dengan cara yang etis dan hemat biaya.
Ketiga, yakni komunikator yang mampu mempromosikan gaya hidup sehat melalui penjelasan dan advokasi yang efektif sesuai dengan norma budaya dan ekonomi yang berlaku, sehingga memberdayakan individu dan kelompok untuk terus meningkatkan dan melindungi kesehatan mereka.
Keempat, pemimpin masyarakat yang telah mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan masyarakat setempat, dapat memulihkan kebutuhan kesehatan individu dan masyarakat seperti semula dan memulai tindakan kedokteran untuk kepentingan masyarakat.
Terakhir, manajer yang dapat bekerja secara efisien dan teratur dengan individu dan organisasi di dalam dan di luar sistem layanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan pasien dan komunitas.
Ia menambahkan, dokter bintang lima seperti itu tidak hanya melayani pasien dan masyarakat, tetapi juga mendapatkan rasa hormat dari masyarakat.
“Untuk memenuhi peran-peran ini, fakultas kedokteran dan fakultas kesehatan lainnya harus membekali setiap lulusan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang penting dalam pengelolaan TB pada pasien dan masyarakat secara keseluruhan,” tandasnya. [ipl/kun]
BACA JUGA: Universitas Hang Tuah Surabaya Kukuhkan 5 Guru Besar Baru






