Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar ITS Surabaya Prof Suwarno mengembangkan material penyimpanan energi baru dan terbarukan (EBT) hidrogen dan baterai. Mengingat, masalah tersebut masih menjadi aspek krusial yang belum banyak didalami.
Ia menjelaskan, untuk mencapai konsep EBT diperlukan sistem energi yang tidak melibatkan pelepasan karbon pada prosesnya. Dalam hal ini, potensi hidrogen sebagai vektor energi (energy carrier) sangat dibutuhkan.
Profesor dari Departemen Teknik Mesin ITS tersebut mengatakan, konsep hidrogen sebagai vektor energi yang dimaksud adalah hidrogen harus diproduksi dengan mengonversikannya dari sumber energi yang lain.
“Dalam konsep ini, hidrogen akan dielektrolisis dari air dengan menggunakan tenaga matahari untuk kemudian disimpan sebagai sumber energi,” jelas Suwarno, ditulis Kamis (23/11/2023).
Sebagai sumber EBT, menurutnya hidrogen yang sudah disimpan bisa dikonversi kembali menjadi listrik dengan memakai fuel cell. Hidrogen juga bisa dimanfaatkan pada kendaraan secara langsung dengan pembakaran menggunakan sistem internal combustion engine (ICE).
Namun, di samping potensi yang unggul dari bahan ini, Suwarno juga menyayangkan akan densitas (kerapatan benda cair) volumetrik hidrogen yang sangat rendah dibandingkan dengan bahan bakar lain.
Karena itu, Suwarno menginisiasikan metode penyimpanan hidrogen dalam volume yang lebih padat. Di sini, hidrogen dapat bereaksi dengan banyak logam untuk membentuk hidrida logam yang memiliki kepadatan hingga 150 kilogram H/m3.
“Hidrida logam dapat didefinisikan sebagai senyawa yang terbentuk dari unsur logam yang berikatan dengan hidrogen,” jelasnya.
BACA JUGA:
Guru Besar ITS Surabaya Teliti Cara Koreksi Citra Satelit untuk Tingkatkan Akurasi
Aplikasi hidrida sebagai penyimpan hidrogen itu dapat memanfaatkan fenomena reaksi formasi dan disosiasi yang dapat bolak-balik dari hidrogen. “Hal itu yang menjadi dasar hidrogen dapat diterapkan sebagai sumber EBT dan konsep green energy ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengaplikasian sistem ini sudah diterapkan di Indonesia. Di antaranya adalah penggunaan kendaraan berbasis hidrogen serta aplikasi pemahaman hidrogen terhadap integritas material pipeline di industri.
“Terakhir, saya berharap agar bisa mengimplementasikan inovasi ini agar menjadi produk renewable energy untuk Indonesia Net Zero Emission pada 2060 nanti,” tandasnya. [ipl/but]






