Mojokerto (beritajatim.com) – Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, kembali menunjukkan eksistensinya sebagai “Desa Alas Kaki” melalui tradisi tahunan Ruwat Desa. Berbeda dengan gunungan hasil bumi pada umumnya, warga mengarak gunungan sepatu raksasa setinggi tujuh meter sebagai simbol syukur dan identitas ekonomi desa, Sabtu (14/2/2026).
Ritual yang digelar rutin setiap menjelang bulan suci Ramadan ini menjadi magnet bagi ribuan warga, baik dari dalam maupun luar desa. Tradisi ini bukan sekadar seremonial, melainkan ruang bagi warga untuk memanjatkan doa bersama demi keberkahan usaha dan keselamatan lingkungan.
Gunungan setinggi tujuh meter tersebut disusun secara gotong royong oleh sekitar 105 perajin sepatu rumahan. Ketua Paguyuban Pengrajin Medali (PPM), Abdul Ghoni, mengungkapkan bahwa jumlah sepatu yang diarak disesuaikan dengan angka tahun berjalan.
“Ini adalah tahun keenam kami ikut serta dalam karnaval ini. Kali ini ada 2.026 pasang sepatu sesuai jumlah tahun, yang diikuti oleh warga dari lima dusun. Kami bangga karena antusiasme pengunjung terus meningkat setiap tahunnya,” ujar Abdul Ghoni.
Setelah diarak sejauh 2 kilometer melewati gang-gang sentra produksi, puncak acara ditandai dengan pembagian sepatu tersebut kepada warga. Suasana penuh haru dan tawa mewarnai momen pembagian berkah ini, di mana warga meyakini sepatu yang didapatkan membawa keberkahan bagi kehidupan mereka.
Kesuksesan industri sepatu di Desa Medali tidak lepas dari dukungan ekosistem pendukungnya. Salah satunya adalah Lem Rajawali, merek perekat terkemuka di Indonesia yang telah puluhan tahun menjadi pilihan utama para perajin lokal.
Kehadiran Lem Rajawali dalam acara ini merupakan bentuk kontribusi nyata terhadap pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi perajin. Managing Director Lem Rajawali, Martin Hendriadi Fu, menegaskan bahwa pertumbuhan brand mereka sangat bergantung pada kesuksesan para mitra perajin di daerah.
“Dukungan pada kegiatan perajin lokal adalah cara kami berkontribusi nyata bagi ekonomi Jawa Timur. Kami ingin hadir bukan hanya saat mereka bekerja, tetapi juga saat merayakan tradisi,” ungkap Martin.
Selain aspek budaya, Ruwat Desa ini memberikan dampak ekonomi instan bagi warga sekitar. Sepanjang jalur arak-arakan, pedagang jajanan dan minuman musiman meraup rezeki dari banyaknya kunjungan wisatawan lokal.
Dengan berakhirnya prosesi arak-arakan gunungan sepatu, warga Desa Medali kini bersiap menyongsong bulan suci Ramadan dengan hati yang bersih dan semangat kebersamaan yang semakin erat. Tradisi ini membuktikan bahwa modernitas usaha kecil dapat berjalan beriringan dengan kearifan lokal yang telah mengakar.[rea]






