Pasuruan (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri High Level Meeting Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur yang digelar oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur di Plataran Bromo, Pasuruan, Sabtu (9/12).
Dalam pertemuan tersebut, Khofifah menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang tidak hanya tumbuh secara inklusif tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat secara nyata. Konsep inklusif di sini berarti pertumbuhan ekonomi yang merata dan memberikan manfaat kepada semua lapisan masyarakat.
“Ekonomi di Jawa Timur harus tumbuh inklusif dan bermanfaat. Semakin bertumbuh, semakin memberikan manfaat yang lebih luas seperti mengurangi pengangguran, menurunkan angka kemiskinan dan stunting, serta meningkatkan kualitas pendidikan,” ujarnya.
Khofifah juga menyampaikan optimisme dalam menghadapi perekonomian Jawa Timur pada tahun 2024. Optimisme ini terbukti dengan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang memuaskan sepanjang tahun 2023.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Jatim pada Triwulan III 2023 mencapai 1,79%, menjadi yang tertinggi di antara provinsi lain di Pulau Jawa. Jawa Timur juga menjadi kontributor terbesar kedua dalam perekonomian Indonesia dengan 14,6%, serta penyumbang terbesar kedua di Pulau Jawa dengan 25,56%.
“Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ini juga berdampak positif terhadap pengentasan kemiskinan ekstrem di wilayah ini yang turun drastis dari 4,4% pada tahun 2020 menjadi 0,82% pada Maret 2023,” tambahnya.
Pencapaian ini tidak lepas dari program pembangunan di desa-desa. Desa menjadi fokus pembangunan karena sebagian besar kantong-kantong kemiskinan berada di pedesaan. Salah satu program utama adalah Desa Mandiri dan Desa Devisa.
Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah Desa Mandiri tertinggi di Indonesia dengan 2.800 desa, yang berkontribusi sebesar 24,44% dari total Desa Mandiri di Indonesia. Hal yang sama berlaku untuk Desa Devisa, di mana 149 desa dari total 613 desa devisa di Indonesia berada di Jatim.
“Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Timur juga mencapai 74,65 pada 1 Desember 2023, meningkat 3,15 persen selama periode 2019-2023,” ungkapnya dengan bangga.
Data BPS menunjukkan bahwa capaian IPM 2023 Jawa Timur di atas rata-rata nasional yang mencapai 74,39. IPM Jawa Timur juga lebih tinggi daripada IPM provinsi besar lainnya di Pulau Jawa, seperti Jawa Barat (74,24) dan Jawa Tengah (73,39).
Selain membahas pencapaian, pertemuan juga mengidentifikasi tantangan yang akan dihadapi oleh Indonesia dan Jawa Timur, terutama terkait ketahanan pangan.
Khofifah optimis terkait ketahanan pangan Jawa Timur yang telah menjadi lumbung pangan nasional sejak 2020. Produksi padi Jatim merupakan yang tertinggi di antara provinsi lainnya dari 2020 hingga 2023.
“Produksi padi Jatim pada tahun 2023 mencapai 9,59 juta ton GKG, yang menyumbang 17,89% dari produksi nasional sebesar 53,63 juta ton GKG. Hal yang sama juga terjadi pada komoditas lain seperti daging sapi, jagung, pisang, dan perikanan,” jelasnya.
Dirinya juga menegaskan pentingnya peningkatan kualitas beras yang dihasilkan petani untuk mencapai kategori beras medium hingga premium.
“Peningkatan kualitas beras akan membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan harga jual beras,” tambahnya.
Ia mengajak seluruh stakeholder untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam menghadapi tahun 2024, serta memprioritaskan kebijakan yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi inklusif dan berdampak bagi masyarakat.
BACA JUGA:
Susul PAN, Gerindra Beri Rekom ke Khofifah Cagub Jatim 2024
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Doddy Zulverdi, menambahkan bahwa pertemuan kali ini bukan hanya membahas refleksi perekonomian Jatim di tahun 2023, tetapi juga bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan yang akan dihadapi dan mengantisipasinya dengan baik.
Pertemuan ini dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono, Kepala Kanreg IV OJK, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jatim, Kepala Kanwil Ditjen Bea Cukai 1 Jatim, Jajaran Perwakilan BI Jatim, serta para akademisi. [ada/but]






