Gresik (beritajatim.com) – Permasalahan sampah organik masih menjadi atensi pemerintah daerah. Untuk mengatasi hal itu, ada inovasi sederhana mengurangi sampah tersebut. Misalnya, memanfaatkan ‘Eco Enzym’ dari sampah organik yang sering dilakukan belakangan ini. Eco Enzyme sendiri adalah cairan serba guna hasil fermentasi dari sampah organik sisa buah dan sayur.
Ketua Relawan Eco Enzym Indonesia (REEI) Gresik, Tatik Erawati Umaya menuturkan,
produksi massal ini sebagai upaya tanggap bencana mengurangi dampak yang ditimbulkan sampah pada lingkungan sekitar. Ini juga merupakan upaya menyiapkan stok cairan serbaguna di Gresik.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sampah”]
“Eco Enzyme dapat digunakan sebagai desinfektan alami, hand sanitizer, starter kompos, dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, bahkan saat wabah PMK kemarin, Eco Enzyme dapat digunakan sebagai obat dengan cara disemprotkan langsung ke luka.” tuturnya, Kamis (1/12/2022).
Masih menurut Tatik, REEI merupakan kelompok relawan binaan dari perusahaan smelter di Gresik. Kelompok ini telah berdiri sejak setahun yang lalu. Sampai saat ini REEI telah mendirikan bank Eco Enzym di tujuh titik Kabupaten Gresik.
“Bank Eco Enzym kami ada di Desa Dahanrejo dan Perum Bukit Randuagung di Kecamatan Kebomas, Kelurahan Sidokumpul dan Tlogopojok Kecamatan Gresik. Kemudian Perum Villa Peganden Kecamatan Manyar, dan Perum Banjarsari Asri Kecamatan Cerme, Gresik,” paparnya.
Wabup Gresik Aminatun Habibah menambahkan, inovasi ini merupakan sebuah langkah yang cemerlang upaya melestarikan lingkungan penting dilakukan untuk menanggulangi kerusakan maupun bencana yang berpotensi terjadi.
“Ini sangat luar biasa, karena kita bisa mengurangi sampah. Sebab, sampah ini sudah menjadi fokus utama tidak hanya di Gresik tapi juga dunia,” imbuhnya.
Dalam memproduksi Eco Enzyme ada tiga bahan utama yang perlu disiapkan. Pertama air bersih yang berasal dari hujan, sumur, atau endapan PDAM. Kedua, gula merah atau molases. Selanjutnya, ketiga sisa buah dan sayuran. Semua bahan tersebut akan dicampur dan difermentasi selama 90 hari sebelum dapat digunakan. (dny/kun)






