Lamongan (beritajatim.com) – Di awal bulan Muharram 1444 Hijriah, Dusun Miri, Desa Slaharwotan Kecamatan Ngimbang, Lamongan menggelar tradisi grebeg suro yang menarik, berupa parade budaya, pada Minggu (7/8/2022) hari ini.
Dalam parade ini, warga desa bersama ratusan seniman Lamongan yang tergabung dalam Paguyuban Seniman Tradisional Lamongan (Pastala) tak hanya menampilkan beragam seni tradisional, namun juga berduyun-duyun melakukan pawai, sembari menari dan menghibur warga masyarakat.
Ketua Pastala, Puji menyampaikan, bahwa para seniman yang hadir dalam parade ini menampilkan berbagai kesenian tradisional yang hidup dan berkembang di Lamongan.
Adapun kesenian tradisional yang berpartisipasi, dalam acara ini, sebut Puji, di antaranya adalah Reog, Jatilan, Jaranan dan Campursari. Tidak sekedar berparade, di sepanjang jalan yang dilalui mereka juga. “Parade seni tradisional ini adalah agenda tahunan yang kami namai Grebeg Suro. Setidaknya, ada 50 kelompok seni tradisional dari seluruh Lamongan yang mengikuti parade budaya ini,” ujar Puji, Minggu (7/8/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”grebeg-suro”]
Ditambahkan Puji, parade seni tradisional ini juga melibatkan para pelajar yang memang menekuni dunia seni tradisional. Hal itu seperti yang dilakukan oleh para pelajar dari SMKN Sambeng, yang turut menjadi penabuh gamelan untuk para peserta parade.
Tak cukup itu, menurut Puji, pagelaran ini tak sepenuhnya konvensional, namun juga menggabungkan seni modern, berupa pagelaran busana atau fashion.
Terlihat para peserta berparade dengan berjalan dari puncak bukit tertinggi di Desa Slaharwotan, Kecamatan Ngimbang menuju ke arah desa yang ada di wilayah selatan Lamongan tersebut. “Sebagai pembuka jalan para seniman ini, kami tampilkan juga parade busana atau fashion dengan mengambil tema ‘Fashion Week’ di atas Perbukitan,” tandasnya.
Sontak, kegiatan parade budaya ini pun disambut meriah oleh masyarakat. Apalagi, kehadiran para peserta parade yang semuanya mengenakan kostum tradisional menambah antusias para warga dari desa lain untuk berbondong-bondong memadati lokasi.
“Diikutkannya fashion show dengan gaya baju tradisional ini mengandung arti bahwa seni tradisional juga bisa maju dan bisa berkembang,” papar Puji.
Lebih lanjut, Puji menuturkan, di penghujung parade ini para peserta yang tiba di garis finish lapangan setempat kemudian secara bergantian tampil ke atas panggung yang sudah disediakan. “Parade budaya semacam ini sebelumnya pernah kita gelar, tapi sempat terhenti karena pandemi. Kita bersyukur, karena tahun ini kembali bisa digelar,” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi yang berkesempatan hadir dalam acara Grebeg Suro ini pun turut mengajak masyarakat untuk terus melestarikan kesenian dan budaya daerah tersebut.
Dengan begitu, kata Bupati Yuhronur, diharapkan dapat menambahkan kecintaan dan mempertahankan orisinalitas bangsa Indonesia yang terkenal sebagai bangsa yang berbudaya. “Ketika kebudayaan dan kesenian tidak kita rawat tentu akan menghilangkan jati diri kita sebagai masyarakat Indonesia yang kaya budaya. Untuk itu, mari terus kita lestarikan, karena nilai-nilai yang diangkat dalam kesenian akan meningkatkan harkat dan martabat,” tuturnya.
Orang nomor satu di Lamongan ini juga menilai bahwa grebeg suro bukanlah semata menampilkan berbagai kesenian, namun juga sebagai bentuk serah diri atau tawakal seorang hamba kepada Tuhannya. “Kegiatan ini juga untuk mengenalkan kepada generasi penerus agar tetap melestarikan seni dan budaya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan masyarakat Lamongan kesehatan, keselamatan dan kejayaan di tahun-tahun berikutnya,” harapnya.[riq/kun]








