Sidoarjo (beritajatim.com) – Peristiwa budaya besar yang terjadi di Bumi Jenggala Kahuripan (Sidoarjo) pada tanggal 2 Agustus 2023. Sebuah acara budaya eksotik dan artistik yang disebut “Grebeg Suro Bumi Jenggala: ngepasi malam purnama sidhi”.
Acara ini merupakan peringatan tahun baru Jawa dan dipusatkan di Paseban Alun-alun Sidoarjo. Digelar oleh Paguyuban Budaya Jawa Jenggala Manik bersama Rumah Budaya Rika Rahayu Rasmi.
Momentum ini menciptakan peristiwa budaya eksotik nan artistik bertajuk “Grebeg Suro Bumi Jenggala: ngepasi malam purnama sidhi”. Beberapa hal menjadi catatan penting dalam peristiwa besar ini:
Purnama Sidhi: Acara ini diselenggarakan pada malam bulan purnama, yang dikenal sebagai Purnama Sidhi dalam kalender Jawa, yang juga bertepatan dengan tanggal 15 kalender Jawa dan kalender Hijriyah. Bulan Jawa ini dikenal sebagai “Suro”, sehingga acara ini memiliki makna ganda sebagai peringatan tahun baru Jawa.

Tumpeng Gunungan Polowijo: Yang membedakan acara ini dari peristiwa Purnama Sidhi biasa adalah kehadiran Tumpeng Gunungan Polowijo yang diarak di sekitar Alun-alun dan Pendapa Kabupaten Sidoarjo. Tumpeng ini memiliki makna filosofis yang mewakili sifat-sifat baik dan buruk manusia yang harus dirawat untuk mencapai kesempurnaan.
Partisipasi Budaya: Acara ini dihadiri oleh berbagai paguyuban dan tokoh budaya Jawa dari berbagai daerah seperti Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Pasuruan, dan Mojokerto. Keberagaman ini mencerminkan pentingnya budaya dan warisan budaya dalam membentuk identitas daerah.
Tari-tarian Khas Sidoarjo: Acara ini dimeriahkan oleh tarian khas Sidoarjo seperti Remo Munali Patah, Tari Kepis Ronjot, Banjar Kemuning, dan Solah Ketingan. Tarian-tarian ini menghidupkan estetika budaya dan menceritakan kisah-kisah penting.
Filosofi Tumpeng: Puncak acara melibatkan Ngarak Tumpeng dan penjelasan tentang filosofi di balik Tumpeng Polowijo. Tumpeng ini memiliki arti sebagai ungkapan syukur manusia kepada pencipta atas kesuburan bumi dan mewakili sifat-sifat manusia yang harus dikelola dengan baik.

Kebersamaan dan Persaudaraan: Acara ini mencapai puncaknya pada tengah malam, ketika pengunjung dapat menikmati Tumpeng Polowijo dan hidangan tradisional bersama. Hal ini mewakili semangat kebersamaan dan persaudaraan dalam budaya.
Peristiwa ini tidak hanya merupakan peringatan budaya yang berkelas, tetapi juga menjadi penghormatan terhadap warisan budaya yang kaya dan penting bagi identitas Sidoarjo dan wilayah sekitarnya. [but]






