Ringkasan Berita:
- Pemkab Ponorogo tetap mengalokasikan anggaran Rp500 juta untuk penyelenggaraan Grebeg Suro 2026.
- Kebutuhan pembiayaan di luar APBD akan ditopang melalui dukungan sponsor.
- Festival Nasional Reog Ponorogo diikuti 31 peserta dan Festival Reog Remaja diikuti 24 peserta.
- Grebeg Suro diharapkan menggerakkan sektor UMKM, perhotelan, kuliner, hingga meningkatkan PAD.
Ponorogo (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo memastikan anggaran penyelenggaraan Grebeg Suro 2026 tetap sebesar Rp500 juta atau tidak mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk menjaga kemeriahan agenda budaya terbesar di Bumi Reog tersebut, pemerintah daerah akan mengandalkan dukungan sponsor guna menutup kebutuhan pembiayaan di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Meski anggaran yang dialokasikan relatif sama, Pemkab Ponorogo menargetkan Grebeg Suro tahun ini berlangsung lebih meriah dengan berbagai inovasi dan tambahan kegiatan yang diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo Agus Sugiarto mengatakan, seluruh persiapan dan finalisasi pelaksanaan Grebeg Suro 2026 terus dimatangkan. Pemerintah daerah juga menggandeng event organizer (EO) lokal untuk menghadirkan konsep yang berbeda dibanding penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.
“Kami menggandeng EO lokal untuk tahun ini, agar tampilannya beda dari tahun sebelumnya,” kata Agus Sugiarto, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, kemeriahan Grebeg Suro 2026 akan ditopang oleh puluhan agenda yang berlangsung selama satu bulan penuh. Selain mempertahankan kegiatan yang telah menjadi ikon tahunan, sejumlah konsep baru juga disiapkan untuk memperkuat daya tarik wisata dan budaya Ponorogo.
Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) yang menjadi agenda utama tahun ini dijadwalkan diikuti 31 peserta. Sementara Festival Reog Remaja (FRR) bakal diikuti 24 peserta dari berbagai daerah.
Kedua festival tersebut menjadi magnet utama dalam rangkaian Grebeg Suro 2026 yang secara keseluruhan menghadirkan 28 kegiatan pendukung.
Agus Sugiarto yang akrab disapa Ugin menjelaskan, anggaran Rp500 juta yang bersumber dari APBD hanya menjadi salah satu sumber pembiayaan. Karena itu, pemerintah daerah akan menggandeng sejumlah sponsor agar penyelenggaraan tetap berjalan maksimal tanpa harus menambah beban anggaran daerah.
Dengan pola pembiayaan tersebut, Pemkab Ponorogo berharap Grebeg Suro tidak hanya menjadi perayaan budaya tahunan, tetapi juga mampu menciptakan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.
“UMKM kami harapkan berjalan, pegiat karya, jajanan, industri perhotelan, sampai makanan, ekonominya kami harapkan naik,” ungkapnya.
Pemerintah daerah memproyeksikan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan selama Grebeg Suro akan memberikan efek berganda terhadap berbagai sektor usaha, mulai dari UMKM, kuliner, perdagangan, jasa transportasi, hingga industri perhotelan.
Dampak ekonomi tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor retribusi, parkir, dan layanan wisata lainnya.
Pemkab Ponorogo optimistis ribuan wisatawan dari berbagai daerah akan memadati sejumlah lokasi kegiatan selama perayaan berlangsung. Selain festival reog, masyarakat juga akan disuguhi berbagai agenda budaya yang telah menjadi tradisi tahunan.
“Nanti juga ada larungan di Ngebel, kirab pusaka, dan banyak agenda lainnya,” pungkasnya.
Dengan kombinasi antara pelestarian budaya, penguatan sektor pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, Grebeg Suro 2026 diharapkan kembali menjadi salah satu event budaya unggulan Jawa Timur yang mampu memperkuat identitas Ponorogo sebagai Kota Reog sekaligus menggerakkan ekonomi daerah. [end/beq]






