Gol itu akan dikenang dalam sejarah 100 tahun Persebaya kelak pada 18 Juni 2027. Menit 30, Robson Duarte menerobos kotak penalti Persis Solo, menari-nari, dan mengirim bola lambung ke sisi kanan pertahanan lawan. Di sana Paulo Henrique menanduk bola yang datang ke arah gawang Persis.
Bola ditepis penjaga gawang Persis Muhamad Riyandi. Namun wasit Heru Cahyono meniup peluit tanda gol sudah terjadi. Pemain Persis pun melancarkan protes keras karena menganggap bola belum masuk gawang. Namun Heru bersikukuh. Apalagi asisten wasit Mardiyono mengonfirmasi bahwa bola tandukan Henrique sudah masuk gawang.
Pertandingan tunda pekan ke-18 di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (13/12/2023) berakhir imbang 1-1. Persis berhasil menyamakan kedudukan melalui Sho Yamamoto, mantan pemain Persebaya asal Jepang, pada menit ke-58 setelah menerima bola operan Eky Taufik.
Seandainya tidak ada gol ‘hantu’ Henrique, Yamamoto akan menjadi bahan pebincangan Bonek di media sosial. Dilepasnya pemain yang mencetak gol kemenangan Persebaya atas Arema di Malang pada 1 Oktober 2022 itu oleh manajemen, memicu silang pendapat di kalangan pendukung Persebaya.
Gol Henrique membuat manajemen Persis meradang, dan melaporkan dua perangkat pertandingan yang mengesahkannya ke PSSI. Sementara itu hasil jajak pendapat yang saya lakukan di platform X (Twitter) menunjukkan sebanyak 87 persen dari 149 responden menyebut gol itu tidak sah. Hanya 1 persen yang mengganggapnya sah dan 12 persen menyatakan tidak peduli apakah gol itu tidak sah.
Kontroversi tersebut menunjukkan semakin pentingnya keterlibatan teknologi garis gawang dan VAR (Video Assistant Referee) dalam kompetisi Liga 1. Sebelumnya dalam pertandingan melawan Persela Lamongan beberapa musim sebelumnya, wasit tidak mengesahkan gol Persebaya saat bola terlihat sudah melewati garis gawang.
Kita tidak tahu alasan pasti masih belum digunakannya teknologi dalam kompetisi Liga 1. Namun yang jelas, hasil 1-1 ini tidak cukup membuat Bonek puas. Persebaya menciptakan rekor delapan pertandingan tak pernah menang sejak Liga Indonesia digulirkan pada 1994. Bonek sudah mulai khawatir Bajul Ijo bakal terdegradasi jika tak ada perbaikan radikal.
Gol hantu Henrique pun tak bisa menyelamatkan kursi manajer Yahya Alkatiri. Tuntutan pemecatan Yahya sudah diteriakkan Bonek sejak hasil imbang Persebaya melawan Persija, Sabtu (9/12/2023). Teriakan itu semakin kencang setelah hasil tak memuaskan melawan Persis.
Saat itu Yahya menyerahkan masa depannya sebagai manajer kepada Persebaya. “Saya patuh pada pimpinan, kami akan evaluasi dengan manajemen. Yang jelas saya serahkan semua ke manajemen,” katanya.
Manajemen Persebaya pun satu suara dengan Bonek. “Apa yang menjadi tuntutan kalian terkait manajer sudah kami lakukan per hari ini, untuk buktinya ditunggu saja,” kata Direktur Operasional Persebaya Surabaya, Candra Wahyudi, di hadapan ratusan Bonek, usa pertandingan melawan Persis.
Pemberhentian Yahya menjadi puncak krisis Persebaya musim ini. Di bawah manajemen Yahya, Persebaya untuk pertama kalinya dalam sejarah Liga 1 harus ditangani tiga pelatih bergantian dalam satu musim. Kebijakan gonta-ganti pelatih ini memunculkan ketidakstabilan, melengkapi kebijakan pelepasan banyak pemain dengan status dijual maupun dipinjamkan saat musim 2023-2024 tengah berjalan.
Mengganti Yahya sebenarnya tak cukup untuk mereparasi Persebaya. Manajemen harus memperkuat jajaran tim pelatih dengan menambahkan asisten untuk mendampingi pelatih utama Uston Nawawi. Tim ini juga harus dilengkapi psikolog untuk memperbaiki mental pemain. Bahkan jika perlu kiai dan pendeta dilibatkan untuk memberika ketenangan moral.
Saya masih ingat cerita Yani Faturrachman, mantan pemain Persebaya yang bermain di bawah asuhan Rusdi Bahalawan. Ia ingat bagaimana Rusdi membiasakan para pemainnya yang mayoritas muslim untuk melaksanakan salat berjemaah. Saat itu para pemain tinggal di bawah satu atap Wisma Persebaya di Jalan Karanggayam. Ini menciptakan kedekatan, tidak saja antarpemain, namun juga antara pemain dengan Bonek dan lingkungan sekitar.
Tradisi lain Persebaya pada masa lalu di era perserikatan adalah memberikan santunan rutin ke panti asuhan sebelum bertanding. Para pemain diajak bertemu dan berdoa bersama dengan anak-anak itu, menumbuhkan ikatan sebuah klub sepak bola dengan masyarakat. Pada dasarnya lahir dan tumbuhnya sebuah klub sepak bola di dunia tak lepas dari konunitas masyarakat. Itulah kenapa ada sebuah klub sering dijuluki people’s club atau klub sepak bola milik orang banyak.
Era sepak bola industri menghilangkan tradisi itu dan nilai-nilai yang terbentuk di dalamnya. Para pemain Persebaya seperti tidak bermain dalam satu kohesi sebagai sebuah tim, namun sebagai individu yang bertemu di lapangan. Penampilan mereka tak stabil: kadang membaik, kadang memburuk. Dan yang jelas, tak pernah menang dalam delapan pertandingan terakhir. Ini menyedihkan.
Azrul Ananda sudah benar memulai era profesionalisme di Persebaya dengan memperbaiki kondisi finansial. Melihat kondisi Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) yang mengalami krisis keuangan, para pendukung Persebaya boleh bersyukur itu tak terjadi di Bajul Ijo. Namun perbaikan kondisi finansial tidak cukup, tanpa memberikan perhatian kepada tim, mengingat inti dari bisnis sepak bola adalah tim yang bertanding dalam kompetisi.
Aspek sentuhan manusiawi menjadi penting, karena kestabilan finansial tak akan banyak berarti jika tim ini tidak siap secara mental untuk menjadi pemenang. Bonek tentu berharap manajer yang baru bisa menemukan kembali apa yang telah menjadi ‘hantu’ selama ini di Persebaya: kedekatan dan kesatuan sebagai sebuah tim sepak bola. Persebaya sebagai keluarga. [wir]






