Bantul (beritajatim.com) – Hampir semua masyarakat DIY dan sekitarnya paham benar legendarisnya Gula Jawa Triwidadi Bantul. Gula Jawa Triwidadi memang lain daripada yang lain. Konon pembuatan Gula Jawa di kawasan Triwidadi Bantul ini sudah ada sejak Indonesia sebelum kemerdekaan.
Saking legendarisnya Gula Jawa Triwidadi sering diburu wisatawan bahkan warga lokal yang memang menyukai kualitas produk ini.
Konon katanya kualitas Gula Jawa Triwidadi ini berbeda dengan gula Jawa pada umumnya. Bagi pembuat jenang yang memanfaatkan gula Jawa untuk juruh alias kuah jenang, jika memakai gula Jawa Triwidadi akan menjadi sangat enak. Pun ketika mengolah aneka minuman seperti dawet, dengan Gula Jawa Triwidadi dawet yang dihasilkan menjadi lebih sempurna.
Rasa khas pembuatan aroma nira yang masih asli dan kadar kemanisan yang pas membuat banyak orang masih cinta dan mencari Gula Jawa Triwidadi asli Bantul. Gula aren begitu banyak warga sering menyebut memiliki warna coklat tua sempurna dan kualitas baik yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan gula kelapa dengan warna coklat muda.
Kalurahan Triwidadi, Kabupaten Bantul menjadi sentra utama pemasok kebutuhan gula jawa di Kabupaten Bantul dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Produksi Gula Jawa Triwidadi ini dilakukan secara turun temurun dan masih tradisional dan menggunakan batok kelapa sebagai cetakannya.
Proses pembuatan gula jawa ini dimulai dengan menyadap nira dari kuncup kelapa. Selanjutnya hasil sadapan tersebut dimasak dengan api besar hingga mengental. Agar nira yang dimasak tidak menguap, adonan ditaburi dengan parutan kelapa. Kemudian diaduk kembali beberapa menit. Setelah mengental dan berwarna kecoklatan, selanjutnya dicetak menggunakan batok kelapa.
Proses pembuatan gula jawa ini membutuhkan waktu sekitar dua jam dari dimulai hingga proses pencetakannya. Hasil pengolahan bisa disesuaikan dengan tekstur gula jawa yang akan dihasilkan. Jika ingin mendapat gula jawa yang empuk, maka proses pengolahan dan pengadukan di atas api tidak terlalu lama. Namun jika menginginkan hasil gula jawa yang keras, tinggal memperlama proses pengadukan dan pengolahannya di atas wajan.
Lurah Triwidadi, Slamet Riyanto Jumat (18/8/2023) mengatakan jumlah perajin gula jawa yang terbagi dalam lima kelompok padukuhan di Kalurahan Triwidadi mencapai 200 orang. Dalam sehari, produksi gula jawa bisa mencapai dua hingga tiga ton.
Permintaan akan kebutuhan gula jawa terus ada dan potensi nira yang disadap dari pohon kelapa di Kalurahan ini cukup besar.
Namun masalah yang dihadapi kawasan sentra Gula Jawa Triwidadi Bantul saat ini adalah mengalami penurun jumlah perajin gula jawa secara drastis. “Hal ini disebabkan karena semakin langkanya penyadap nira kelapa dari tahun ke tahun regenerasi masih minim sekali. Para penyadap nira mayoritas adalah orang tua,” jelas Slamet.
Diceritakan Slamet generasi muda Triwidadi saat ini enggan menjadi penyadap nira. “Pemuda pemuda Triwidadi saat ini enggan menjadi penderes alias penyadap nira. Ya karena memang sebagai tukang penyadap nira penghasilannya rendah dan tak menentu,” bebernya.
Selain itu, faktor risiko keselamatan yang cukup tinggi juga menjadi pemicu tidak adanya regenerasi dari pemuda pemuda Triwidadi.
Slamet menambahkan, bahwa dalam meminimalkan resiko kerja dari aktivitas menyadap nira kelapa, sudah pernah ada program penanaman pohon kelapa rendah dan pemberian sabuk pengaman kepada para penyadap nira. “Namun kendalanya pola kerja, katanya kalau pakai sabuk terlalu lama tidak fleksibel. Ini mungkin perlu diubah pola masyarakat. selain itu diperlukan inovasi teknologi bagi penyadap nira ini,” ujar Slamet.
Salah seorang penyadap nira dari Kalurahan Triwidadi, Sunarto (49) menuturkan dirinya telah menjadi penderes (penyadap nira). Ia menuturkan jika nira bisa dijual menjadi legen maupun diolah untuk kemudian dijadikan gula jawa. Jika musim panas, legen terjual lebih laris.
“Tak ada pilihan lain pekerjaan yang saya bisa cuma jadi penderes ya sudah dijalani. Kalau anak anak saya sebisa mungkin harus lebih sukses jangan jadi penderes seperti bapaknya karena bayarannya kecil dan tak menentu,” keluhnya.
Ketua kelompok tani Ngudi Mulyo, Rajiman (70) menyampaikan bahwa usaha pembuatan gula jawa nira ini sudah dilakukan turun-temurun. Namun, ia mengakui bahwa produksi gula jawa saat ini tidak sebanyak pada zaman dahulu.
“Ya karena saat ini penderes alias para penyadap nira kelapa semakin lama semakin habis dan berkurang. Generasi tua semua yang masih tersisa. Yang muda muda tenaganya masih bagus enggan jadi penderes,” bebernya.
Ia mengatakan harga jual dari perajin sebesar Rp.15.000 per kilogram untuk gula jawa dengan campuran gula pasir. Sedangkan untuk gula jawa murni sebesar Rp.30.000 per kilogram. Pemasaran tak hanya di area Bantul dan DIY namun juga dipasarkan di area Jawa Tengah hingga Jawa Timur. (aje/kun)
BACA JUGA: Yogyakarta Darurat Sampah, Pemkab Bantul Bikin Terobosan Baru






