Surabaya (beritajatim.com)– Di tengah tekanan akademik, tuntutan kerja, dan kehidupan sosial yang serba cepat, Gen Z menghadapi stres dengan cara yang berbeda. Jika generasi sebelumnya lekat dengan alkohol sebagai cara melepas penat, Gen Z justru menunjukkan kecenderungan lain, memesan espresso 4 shot. Fenomena ini bukan sekadar tren iseng atau konten viral Pilihan tersebut mencerminkan perubahan cara pandang terhadap stres, kesehatan, dan kontrol diri.
Bukan untuk Kabur, Tapi untuk Tetap Fokus
Alkohol identik dengan efek relaksasi dan melupakan masalah untuk sementara. Namun, Gen Z cenderung tidak ingin kehilangan kesadaran saat menghadapi tekanan. Espresso dosis tinggi memberi efek yang berlawanan. Kafein meningkatkan kewaspadaan, energi, dan fokus. Dalam situasi penuh deadline dan tuntutan produktivitas, banyak dari mereka merasa perlu tetap “on”, bukan justru menurunkan performa. Bagi Gen Z, stres bukan sesuatu yang harus diredam dengan mati rasa,
melainkan dihadapi dan diselesaikan. Karena itu, pilihan minuman pun mencerminkan kebutuhan untuk tetap berpikir jernih.
Pertimbangan Kesehatan yang Lebih Kuat
Kesadaran akan kesehatan juga menjadi faktor penting. Berbagai survei menunjukkan bahwa Gen Z lebih terbuka terhadap minuman non-alkohol dibanding generasi sebelumnya. Alkohol membawa risiko hangover, gangguan tidur, hingga dampak jangka panjang bagi tubuh. Sebaliknya, kopi terutama yang dikonsumsi tanpa gula berlebih lebih diterima sebagai minuman yang relatif aman dan bahkan dipercaya memiliki manfaat, seperti kandungan antioksidan. Dalam budaya generasi sekarang yang semakin menekankan wellness dan self-care, memilih kopi terasa lebih sejalan dengan nilai menjaga tubuh tetap prima.
Kenapa Harus 4 Shot?
Lalu, mengapa sampai empat shot espresso? Di media sosial, terutama TikTok, minuman dengan dosis espresso ekstra kuat menjadi tren. Banyak Gen Z membagikan pengalaman mencoba kopi super pekat sebagai representasi hidup yang juga penuh tekanan.
Empat shot bukan hanya soal rasa pahit. Hal ini menjadi simbol semangat untuk tetap kuat di tengah beban yang tinggi. Selain itu, budaya personalisasi juga berperan. Gen Z terbiasa menyesuaikan segala hal sesuai preferensi, termasuk minuman. Memesan jumlah shot tertentu memberi rasa kontrol dalam kehidupan yang sering kali terasa tidak pasti.
Coffee Shop sebagai Ruang Sosial Baru
Perubahan pilihan minuman ini berjalan seiring dengan perubahan ruang sosial. Coffee shop kini berfungsi sebagai “ruang ketiga” rumah, bukan kantor, tetapi tempat untuk bekerja, berdiskusi, atau sekadar beristirahat sejenak. Berbeda dengan bar yang identik dengan pesta dan alkohol, kedai kopi menawarkan suasana yang lebih terang, produktif, dan ramah untuk berbagai aktivitas. Lingkungan ini lebih sesuai dengan citra yang ingin dibangun banyak Gen Z. Aktif, sadar diri, dan tetap fungsional.
Kopi sebagai Kebiasaan Sejak Dini
Banyak Gen Z mulai mengonsumsi kopi sejak usia remaja. Sejak awal, kopi sudah diasosiasikan dengan belajar, begadang, dan mengejar target akademik. Kebiasaan ini terbawa hingga dewasa. Ketika stres meningkat, pilihan yang terasa paling familiar dan “aman” adalah kembali pada kopi, bukan beralih ke alkohol. [Meychel Salsabyla]






