Surabaya (beritajatim.com) – Gen Z menjadi salah satu kelompok penting dalam helatan Pilkada 2024 mendatang. Karena itu, diperlukan strategi komunikasi yang tepat dan efektif untuk merangkulnya.
“Pertama, memahami karakteristik, nilai, dan kebiasaan Gen Z. Mereka generasi yang digital native, terbiasa dengan teknologi dan internet,” ujar Pengamat Komunikasi Politik Stikosa AWS Dr Jokhanan Kristiyono, Rabu (29/5/2024).
Artinya, bermain di wilayah media sosial menjadi cara jitu untuk merangkul mereka. Sebab, Gen Z dikenal sebagai generasi yang kritis, ingin terlibat, dan peduli terhadap isu-isu sosial.
“Setiap individu atau kelompok politik yang terlibat dalam Pilkada 2024 bisa membuat konten menarik dan informatif sesuai preferensi mereka, seperti video pendek, meme, dan infografis,” kata Jokhanan.
Sebagai catatan, memakai bahasa yang lugas, mudah dipahami, dan sesuai gaya komunikasi Gen Z perlu diperhatikan. Komunikasi yang terbuka dan transparan, serta menunjukkan bahwa suara mereka didengar dan dihargai menjadi poin penting.
“Berikan kesempatan kepada Gen Z untuk terlibat dalam pengambilan keputusan dan proses politik. Adakan forum diskusi, survei online, dan polling untuk mendapatkan masukan mereka,” terangnya.
Jokhanan menilai, upaya melibatkan Gen Z menjadi wujud komitmen pelibatan Gen Z tidak sebatas sebagai objek, tapi juga sebagai subjek. Hal serupa tidak hanya saat mengemas pesan, tapi juga pembuatan isu.
“Angkat isu-isu yang penting bagi Gen Z, seperti perubahan iklim, keadilan sosial, dan kesehatan mental. Tunjukkan bagaimana kegiatan politik dapat memberikan solusi untuk masalah-masalah tersebut. Sampai di sini, bila perlu, ajak influencer,” tegas Jokhanan.
Bekerja sama dengan influencer Gen Z yang kredibel dan memiliki banyak pengikut dapat membantu menyebarkan informasi dan mempromosikan kegiatan politik kepada audiens yang lebih luas.
“Dalam strategi komunikasi secara umum kita juga harus terbiasa menggunakan logika dan cara menciptakan pengalaman yang interaktif. Gunakan gamification, augmented reality, dan virtual reality untuk menciptakan pengalaman interaktif dan menarik bagi Gen Z,” jelasnya.
Bekerja sama dengan organisasi dan komunitas Gen Z yang sudah ada, kata Jokhanan, juga dapat membantu menjangkau kelompok ini lebih efektif dan membangun kepercayaan. Maklum, membangun hubungan dengan Gen Z kadang membutuhkan waktu dan usaha ekstra.
“Konsistenlah dalam komunikasi dan engagement Anda, dan tunjukkanlah komitmen Anda untuk jangka panjang. Terbuka untuk masukan dan kritik dari Gen Z. Dengarkan apa yang mereka inginkan dan butuhkan, dan pelajarilah dari mereka,” tandas Jokhanan.
Sebab, Gen Z harus dilibatkan subjek, bukan hanya objek. Apalagi jika diposisikan sebagai kelompok penyedia suara semata.
“Tapi ada kepentingan yang harus dilayani, ada suara yang wajib didengarkan, ada gerakan yang harus melibatkan secara konsisten dan berkelanjutan. Karena ingat, politisi yang notabenenya akan menjadi pejabat publik, tidak bisa tidak, dia harus paham dan mengerti publiknya. Kuncinya kan di situ,” tutup Jokhanan. [ipl/kun]






