Blitar (beritajatim.com) – Gempa bumi berkekuatan 6,4 Magnitudo yang berpusat di Pacitan mengakibatkan sebuah rumah di lereng Gunung Kawi, Kabupaten Blitar, mengalami kerusakan struktur serius pada Jumat (6/2/2026) dini hari. Guncangan tektonik yang terjadi sekitar pukul 01.00 WIB tersebut memicu keretakan masif pada dinding bangunan meski otoritas penanggulangan bencana setempat mengklaim belum menerima laporan resmi.
Rumah milik Narkin (52) menjadi salah satu bukti nyata dampak guncangan hebat yang dirasakan warga di wilayah Kabupaten Blitar bagian timur. Kondisi tempat tinggalnya kini memprihatinkan dengan tembok yang retak di berbagai sisi sehingga mengancam keselamatan penghuni jika terjadi guncangan susulan.
“Kena gempa tadi malam, kondisinya rusak parah. Tembok-tembok banyak yang retak,” ungkap Narkin dengan raut wajah cemas saat ditemui di kediamannya pada Jumat (6/2/2026).
Pria paruh baya ini kini hanya bisa menatap nanar kondisi huniannya yang tak lagi kokoh usai diterjang energi seismik dari laut selatan. Ia berharap pemerintah daerah segera memberikan perhatian nyata untuk bantuan perbaikan sebelum potensi cuaca ekstrem memperparah kerusakan bangunan tersebut.
Namun, situasi di lapangan berbanding terbalik dengan data yang dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar. Hingga Jumat siang, pihak otoritas menyatakan bahwa belum ada laporan kerusakan fisik akibat gempa Pacitan yang masuk ke pusat kendali operasi mereka.
Kepala BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, menegaskan bahwa personelnya masih terus melakukan penyisiran dan proses asesmen di berbagai titik potensial terdampak. Pihaknya mengaku masih menunggu laporan valid dari tingkat perangkat desa maupun kecamatan guna memetakan total kerugian di wilayahnya.
“Dampak gempa tadi malam, sejauh ini belum ada laporan resmi yang masuk ke kami,” ujar Wahyudi saat dikonfirmasi mengenai status kerusakan infrastruktur maupun hunian warga.
Ketidaksinkronan data ini mengindikasikan adanya kendala komunikasi atau keterlambatan alur pelaporan dari tingkat desa di lereng Gunung Kawi menuju pusat kabupaten. Kondisi tersebut menjadi alarm bagi sistem mitigasi bencana di daerah agar proses pendataan warga terdampak bisa berjalan lebih responsif dan akurat.
Perangkat desa serta relawan penanggulangan bencana diimbau untuk lebih proaktif melakukan pengecekan langsung ke pemukiman warga di wilayah pelosok. Langkah ini penting dilakukan agar warga seperti Narkin segera mendapatkan kepastian bantuan dan tidak sekadar menjadi catatan yang tertinggal dalam administrasi.
Warga di seluruh wilayah Blitar diminta tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan yang mungkin terjadi sewaktu-waktu. Pemeriksaan berkas konstruksi bangunan secara mandiri sangat disarankan untuk meminimalisir risiko cedera jika struktur rumah sudah tidak lagi stabil pascaguncangan hebat semalam. [owi/beq]






