Pasuruan (beritajatim.com) – Setelah berlangsung selama empat hari sejak Minggu (20/7/2025), kegiatan Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana resmi ditutup pada Rabu (23/7/2025). Penutupan dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di Kebun Raya Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.
Kegiatan ini melibatkan 440 personel dari BPBD Kabupaten/Kota, BPBD Provinsi Jawa Timur, TNI, dan Polri. Tujuannya untuk meningkatkan kolaborasi lintas instansi dan mengecek kesiapan logistik serta keterampilan personel.
Gubernur Khofifah mengatakan bahwa peran BPBD sangat mulia karena berkontribusi langsung dalam menyelamatkan masyarakat saat bencana. “Ketika berada di lokasi bencana dan BPBD memberikan layanan, itu bukan hanya tugas kemanusiaan, tapi juga ladang pahala,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan semacam ini terus dilaksanakan secara rutin agar sinergi antar lembaga semakin solid. “Semoga Jawa Timur dijauhkan dari bencana, tapi kita harus tetap siaga,” tambah Khofifah.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa pengecekan peralatan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan kesiapannya. “Kami pastikan setiap peralatan dan logistik dalam kondisi baik untuk bisa digunakan kapan saja,” terang Gatot.
Deputi Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, turut hadir dan mengapresiasi konsistensi Pemprov Jatim dalam membangun kesiapsiagaan. “Jawa Timur menghadapi ancaman besar, 19,1 juta warga tinggal di zona rawan gempa, dan 17,1 juta lainnya di daerah rawan banjir,” ungkap Lilik.
Lilik menambahkan bahwa latihan dan kesiapan semacam ini harus dibudayakan karena sebagian besar wilayah Jatim tergolong rawan bencana. “Kita tidak mengharapkan bencana, tapi wilayah selatan Jatim berpotensi tsunami besar, jadi perlu budaya tangguh bencana,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menghadapi bencana, bukan hanya mengandalkan BPBD. “Masyarakat juga harus punya kepedulian tinggi dan tahu langkah yang harus dilakukan saat bencana terjadi,” kata Lilik.
Menurut Lilik, kegiatan Gelar Peralatan Bencana ini juga menjadi sarana tukar informasi dan penguatan antarwilayah. Ia memastikan pelatihan dan sosialisasi seperti ini akan terus dilakukan tiap tahun untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana. (ada/ian)






