Gresik (beritajatim.com)- Langkah besar menuju masa depan lingkungan yang lebih bersih mulai digerakkan oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan dan Gresik. Dipimpin langsung oleh Yuhronur Efendi, rombongan Pemkab Lamongan melakukan kunjungan strategis ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Ngipik di Kabupaten Gresik.
Kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Ini menjadi sinyal kuat kolaborasi dua daerah dalam mengembangkan pengelolaan sampah berbasis Waste to Energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Program ini merupakan bagian dari agenda nasional yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto. Gresik dan Lamongan termasuk dalam 10 daerah prioritas untuk mendukung percepatan penanganan sampah melalui skema Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Surabaya Raya yang ditargetkan berjalan pada 2026.
Dua kepala daerah Yuhronur Efendi bersama Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani melihat langsung proses landfill mining, teknologi unggulan TPA Ngipik yang mampu mereduksi timbunan sampah lama secara efektif.
Yuhronur tak menutupi kekagumannya. Ia menilai sistem pengelolaan sampah di Gresik sudah selangkah lebih maju dengan pendekatan modern yang terintegrasi.
“Kami banyak belajar dari sini, terutama teknologi landfill mining yang belum kami terapkan di Lamongan,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Tak hanya itu, inovasi lain seperti pengolahan RDF (Refuse Derived Fuel) serta pemanfaatan sisa makanan menjadi produk pakan ternak, burung, hingga ikan turut mencuri perhatian. Menurutnya, inovasi tersebut bisa menjadi inspirasi dalam pengembangan TPA di Lamongan ke depan.
Sebagai tindak lanjut, kedua daerah berencana menjalin kerja sama resmi melalui MoU untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah terpadu.
Di sisi lain, Fandi Akhmad Yani menegaskan kesiapan Gresik untuk berkolaborasi dalam proyek besar ini. Ia menyebut kerja sama lintas daerah menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah modern berbasis energi.
Kolaborasi PSEL ini juga melibatkan Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo sebagai bagian dari aglomerasi Surabaya Raya.
Dalam skema tersebut, sampah yang telah diolah menjadi energi listrik nantinya akan diserap oleh PLN sebagai bagian dari program energi baru terbarukan nasional.
Gresik diproyeksikan menyuplai sekitar 250 ton sampah per hari, sementara Lamongan sekitar 100 ton per hari ke fasilitas PSEL.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gresik, Sri Zubaidah menyebut capaian pengelolaan sampah di Provinsi Jawa Timur telah mencapai 52,7 persen—tertinggi secara nasional. Hal ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan inovasi dan kolaborasi lintas daerah.
“Langkah ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga menghadirkan solusi energi berkelanjutan serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan ramah bagi generasi mendatang,” pungkasnya. [dny/aje]






