Lamongan (beritajatim.com) – Jika Anda berkunjung ke wisata yang ada di pantura Lamongan, jangan lupa untuk mampir dan menikmati sajian kuliner lezat yang disediakan. Kawasan pantura Lamongan ini memiliki beragam menu andalan yang layak untuk dicicipi.
Salah satu menu andalan tersebut adalah nasi muduk khas pantura Lamongan. Uniknya, nasi muduk ini hanya bisa ditemukan di wilayah pantura, tepatnya di Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan.
Sedapnya nasi muduk Sendangduwur ini memang sudah tak diragukan lagi. Bahkan, bisa dibilang nasi muduk tersebut sangat terkenal di kalangan masyarakat pantura dan menjadi salah satu menu yang sangat legendaris.
Cita rasa nasi muduk ini terasa semakin lezat dengan sajian sambal yang terbuat dari bawang merah, bawang putih, cabai rawit dan bawang daun yang semua bahannya diiris dan ditumis serta ditambah dengan mie yang semakin menjadikannya khas.

Sambal itu lalu dipadukan dengan sejumlah lauk dari hasil olahan laut Pantura Lamongan. Selain itu, olahan rempah yang ada di nasi muduk ini juga akan membuat penikmatnya semakin ketagihan dan begitu pas di lidah.
“Nasi muduk memang hanya ada di sini dan tidak ada didaerah lain,” kata Nasifatun, salah seorang penjual nasi muduk yang ada di Desa Sedangduwur, Kecamatan Paciran kepada wartawan, Rabu (23/2/2022).
Lebih rinci, salah satu pelengkap nasi muduk lainnya yang khas adalah urap latoh berbahan dasar rumput laut. Lalu oseng peda berbahan dasar ikan klotok atau ikan asin dengan perpaduan daun gondorasih.
Sementara lauk pelengkap nasinya meliputi ikan tongkol, oseng pedas, pepes pindang, cumi hitam, udang, kerang, dan telur ayam.
“Dulu nasi muduk ini hanya disediakan dengan lauk tempe goreng serta ote-ote, tetapi sekarang sudah ada tambahan berbagai macam lauk,” ujar Nasifatun yang sudah 7 tahun berjualan nasi muduk ini.
Menurut Nasifatun, dalam sehari ia bisa menghabiskan 23 kilogram beras, yang kalau dihitung bisa menjadi 230 porsi hingga 240 porsi. Ia mengaku, nasi muduk tersebut ia jajakan di lapaknya mulai siang hingga malam hari.
“Harga bervariasi, tergantung lauknya, sesuai permintaan pembeli, antara Rp 5 ribu ke atas,” terang Mbak Tun, sapaan akrab Nasifatun.

Mengenai resepnya, Nasifatun menjelaskan, jika ia mendapat resep nasi muduk saat masih nyantri di salah satu pesantren setempat. Kala itu, ia membantu masak di dapur pesantren. Akhirnya, ia menguasai resep dan ia terapkan hingga saat ini.
Hal senada juga dikatakan oleh Cak Kholik, penjual nasi muduk lainnya yang ada di Desa Sendang Duwur. Menurutnya, selama ia berjualan nasi muduk, lapaknya selalu ramai dikunjungi oleh peminat, baik yang berasal dari luar daerah maupun Lamongan sendiri.
[berita-terkait number=”4″ tag=”lamongan”]
“Alhamdulillah selalu ramai, Karena selain murah dan kuliner khas yang melegenda juga memang Sego Muduk ini hanya ada disini, di daerah lain tidak akan bisa dijumpai,” ungkap Cak Kholik.
Sekadar diketahui, nasi muduk khas Paciran ini juga pernah menjadi juara dalam Festival Makanan Khas Daerah di acara Peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-73 beberapa waktu lalu.
Selebihnya, nasi muduk yang melegenda dan menjadi salah satu kuliner khas Pantura Lamongan ini dijual di beberapa warung yang ada di daerah Sendhangdhuwur. Karena harganya murah, nasi muduk ini selalu ramai dan laris dibeli masyarakat. [riq/but]






