Madiun (beritajatim.com) – Ada yang beda dari cafe pada umumnya di Kota Madiun. Di warung kopi itu ada sekitar 100 buah buku. Tempatnya hanya berukuran 20 meter x 5 meter. Hanya ada lima set tempat duduk dan meja untuk pelanggan.
Mulai buku pengetahuan hingga novel. Tujuannya, sembari ngopi bisa membaca buku di warung kopi di Jalan Salak nomor 60B, Kelurahan/Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur itu.
Kopi yang dijual ada beberapa menu. Ada beberapa jenis kopi hitam ed mulai espresso, americano, kopi tubruk, V60, vietnam drip. Ada pula beberapa varian kopi susu. Juga beberapa makanan ringan.
Siapa saja boleh membaca buku di sana, bebas. Mulai warung buka sampai tutup pun boleh. Bukunya tak boleh dibawa pulang, karena sudah jadi koleksi warung kopi yang berdiri sejak awal tahun 2020 lalu itu.
Namanya MUCaffe. Kata Mucoffee sebagai kedekatan penyebutan dengan muqaffi, orang-orang yang mengikuti tradisi pendahulu. Yakni tradisi yang baik, menjaga warisan tradisi lama yang baik dan mengambil kebaruan yang lebih baik.
Buka di awal tahun 2020 bukan hal mudah karena, buka baru dua minggu, langsung tutup 4 empat bulan. Alasannya, karena ada pandemi Covid-19. Setelah itu, meski tetap dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Namun, meski dengan berbagai macam batasan, nyatanya warung kopi yang dimiliki oleh Hayyik Ali Muntaha Mansur itu tak hanya berjalan dari segi bisnis. Ada pula kegiatan yang sifatnya diskusi dan pelatihan bagi anak-anak muda.
Seperti kegiatan diskusi Ngopi Nyore. Kegiatan itu dilaksanakan tiap dua kali bulan dengan mengundang pejabat, akademisi, hingga anak-anak muda biasa. Diskusi itu dilakukan untuk membangun pemikiran bagi anak-anak muda yang kelak meneruskan pembangunan di Indonesia khususnya Kota Madiun.
Ada pula kegiatan menulis cerpen gratis bagi para anak muda. Sekitar 9 kali pertemuan, sampai menelurkan cerpen-cerpen dan dimuat di media cetak lokal. Hal itu bisa menumbuhkan semangat anak-anak muda yang hobi dalam bidang sastra.
“Terakhir pas bulan Juni 2023, diskusi Kopi Nyore itu Bulan Bung Karno, yakni menjaga nyala api Bung Karno. Saat itu yang diundang anggota Bawaslu Kota Madiun, Bapilu PDIP, dan anak-anak muda Kota Madiun,” kata Gus Hayyik, sapaan akrab Hayyik Ali Muntaha Mansur, Sabtu (8/7/2023).
Pria 33 tahun, itu bikin usaha kopi tak sekadar untuk bisnis. Namun, agar pelanggannya turut bertukar pengetahuan dan ide. Baik dengan membaca buku, atau bertukar pendapat dengan mengobrol. Konsep ngopi demikian diadopsinya dari kota-kota yang menjadi pusat pendidikan seperti Yogyakarta. Warung kopi tak hanya digunakan untuk nongkrong semata, tapi juga untuk bertukar gagasan.
“Kalau di sini bisa berdiskusi dan harapan saya jadi pusat literasi secara umum, seperti sastra, budaya, seni rupa. Jadi yang kerap datang ke sini ya termasuk penggiat sastra, sejarawan, dan pelaku seni rupa. Serta banyak anak-anak muda yang bebas bertukar pendapat di sini,” kata Dosen Ilmu Pendidikan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo itu.
Mendekati tahun 2024, dia ingin mengadakan diskusi lagi. Menurutnya ini jadi kesempatan bagus bagi politikus dan anak-anak muda yang memiliki hak pilih untuk bertemu. Anak-anak muda bisa berdiskusi dan menanyai langsung calon anggota DPRD.
“Ya bisa saja temanya bukan itu saja ya. Kami juga ingin mengadakan diskusi dengan media, bagaimana media ini bisa tetap menjaga objektivitas di saat pemilu 2024. Dan banyak lagi tema diskusi yang bisa beragam nanti. Kami ingin membangkitkan semangat anak muda,” pungkasnya. [fiq/kun]
BACA JUGA:
![MUCaffee Madiun, Ngopi Asik Sembari Berliterasi Suasana MUCaffe di Tujuannya, sembari ngopi bisa membaca buku di warung kopi di Jalan Salak nomor 60B, Kelurahan/Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, Sabtu (8/7/2023) [foto: Fatihah Ibnu Fiqri/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/07/20230708_154109_1688819860606.jpeg)





