Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Kue Kipo, Kue Khas Jogja yang Wajib Anda Tahu Selain Bakpia

Istri Rahayu (55) saat menunjukan cara pembuatan Kue Kipo.

Yogjakarta (beritajatim.com) – Selain bakpia yang kita kenal, ternyata masih ada kue khas dari Yogyakarta yakni kue Kipo. Kue Kipo merupakan jajanan tradisional khas Jogja yang terbuat dari tepung ketan dan kepala parut dicampur gula Jawa sebagai isiannya. Salah satu pembuat kue Kipo yakni Istri rahayu (55).

Kue Kipo milik Istri Rahayu berada di Jalan Mondorakan No 27, Kelurahan Prenggan, Kecamatan Kota Gede, Kota Yogyakarta. Ia merupakan keturunan ketiga yang melestarikan kue yang sudah ada sejak jaman Kerajaan Mataram tersebut. Yakni mulai dari neneknya di tahun 1946 kemudian diturunkan ke sang ibu dan saat ini, ke Istri Rahayu.

Kue Kipo berukuran jempol orang dewasa ini dikemas dalam bungkus daun pisang dan kertas berisi 5 buah dengan Rp2.500. Saat ini, ada sekitar 10 Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Prenggan, Kecamatan Kota Gede, Kota Yogyakarta yang melestarikan kue mungil mirip kue tradisional Mendut ini.

 

Istri Rahayu (55) saat menunjukan cara pembuatan Kue Kipo.

“Kipo ini turun temurun, sekitar tahun 1946 dari nenek diteruskan ibu dan ketiga saya. Kipo karena bentuknya unik, kecil-kecil dan orang akan tanya, Iki opo toh? Dari kata Iki opo toh, maka diberinama Kipo. Iki opo. Menjadi keunggulan mungkin karena tradisional,” ungkapnya saat ditemui beritajatim.com.

Kue Kipo mempunyai keunggulan dibanding kue tradisional lainnya. Selain bentuknya yang kecil, tempat pemanggangan Kue juga masih tradisional yakni menggunakan cobek dari tanah liat yang memiliki desain sendiri. Lebih rata daripada cobek yang digunakan untuk membuat sambal.

“Kalau bahan hampir semua daerah ada, tepung, kelapa, gula Jawa mirip Mendut cuma Mendut kan pakai santan, ini cukup air. Tempat pemanggangan khusus, cobek. Cobek dipilih karena penghantar panas yang stabil. Kalau dari teplon atau tempat pemanggang yang lain panasnya tidak stabil,” katanya.

Kue Kipo tahan sampai tiga hari. Karena tidak memakai pengawet sama sekali sehingga tidak bisa bertahan dengan waktu yang lama. Untuk satu porsi kue Kipo dengan kemasan daun pisang dengan kertas isi lima buah dibandrol dengan harga Rp2.500. Untuk bahan, ada tepung ketan, kelapa dan gula Jawa.

Kue Kipo Khas Yogyakarta

“Bahannya, tepung ketan dikasih pewarna daun suji. Untuk isiannya, kepala muda dengan gula Jawa. Kalau mau ada aroma bisa dari buah nangka, dipotong dimasukkan saat merebus gula Jawa. Tapi tidak semua orang suka jadi saya pilih tengahnya, tanpa buah nangka. Isiannya, pernah coba isi lain tapi balik lagi ke kelapa parut,” jelasnya.

Ini lantaran, resep yang diturunkan dari sang nenek isian Kue Kipo merupakan parutan kelapa yang dicampur dengan gula Jawa. Untuk cara pembuatannya, bahan dasar tepung ketan yang berwarna hijau karena campuran daun suji tersebut diambil sebesar kelereng kemudian dipipihkan dengan menggunakan daun pisang dan diisi kepala parut yang sudah dicampur gula Jawa.

“Adonan yang sudah diisi parutan kelapa dengan gula Jawa kemudian bentuk pastel mini dan dipanggang di cobek yang sudah dipanaskan dengan alas daun pisang. Jika sudah berubah warna pinggirnya angkat. Daun pisang ini menimbulkan aroma sedap. Sekarang di sini, ada sekitar 10 KK yang membuat Kue Kipo,” tuturnya.

Demi menjaga kelestarian Kue Kipo, Rahayu pun mewariskan resep Kue Kipo kepada anak-anak dan keluarganya. Bahkan ia mempersilahkan bagi siapa saja yang ingin mengikuti jejaknya dengan menambahkan bahan lain, namun ia meminta agar tidak mengurangi dari resep yang ada karena Kue Kipo melupakan kue turun temurun dari keluarganya. [tin/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar