Yogyakarta (beritajatim.com) – Kota Yogyakarta menggelar Festival Sastra. Festival dalam rangka meneguhkan status DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) sebagai Daerah Keistimewaan dan untuk memperingati Oktober sebagai Bulan Bahasa.
Pergelaran Festival Sastra Yogyakarta ini diselenggarakan untuk mengingat dan merayakan sejarah sastra Yogyakarta, di mana kota ini telah beberapa kali menjadi saksi berbagai peristiwa sastra penting.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menjelaskan bahwa Yogyakarta memiliki sejarah sastra yang kaya, sehingga dianggap sebagai salah satu pusat sastra di Indonesia. Pada tahun 2022, Festival Sastra Yogyakarta dengan tema “MULIH” berhasil menghidupkan kembali semangat sastra pasca-pandemi dan memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat sastra di Indonesia.
FSY 2023 melanjutkan kesuksesan festival pada tahun sebelumnya sebagai ruang pertemuan antara para pemangku kepentingan sastra di Kota Yogyakarta. Ini mencakup sastrawan, pengarang, penulis, penikmat sastra, media, masyarakat, penjual buku sastra, ilustrator sastra, situs dan artefak sastra. Semua pihak ini diajak untuk berkolaborasi dalam festival ini. Tema FSY 2023 adalah “SILA,” yang merupakan kelanjutan dari tema “MULIH” tahun sebelumnya.
Dalam FSY 2023, “SILA” diartikan sebagai duduk bersila, bermakna kontemplatif, mendengarkan, dan melihat dalam kedalaman. Harapannya adalah bahwa setelah periode “MULIH,” FSY 2023 mampu membantu orang untuk merenung dalam diri mereka sendiri dan kemudian merancang program-program yang merayakan pertemuan sastra di Yogyakarta.
Salah satu langkah berani yang diambil oleh FSY 2023 adalah menghidupkan kembali sayembara puisi, yang dahulu sangat populer di kota Yogyakarta. Sayembara Puisi Nasional adalah program baru dalam FSY, dan peserta yang mendaftar melebihi ekspektasi dengan lebih dari 3.700 karya puisi dari 1.236 peserta.
Joko Pinurbo, salah satu juri sayembara, mengatakan bahwa jumlah peserta SPN ini sangat tinggi untuk standar kompetisi puisi di Indonesia. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada malam penutupan FSY, tanggal 28 Oktober 2023, di kawasan Kotabaru.
Paksi Raras Alit, sebagai ketua tim kreatif, menyatakan bahwa FSY semakin berkembang dalam bentuk, jumlah program, mitra kolaborasi, dan keterlibatan masyarakat. Festival ini selalu melibatkan warga masyarakat kampung di Kota Yogyakarta, dengan harapan bahwa FSY tidak hanya menjadi tempat pertemuan para pelaku sastra, tetapi juga menjadi ruang untuk memupuk literasi, bahasa, dan sastra bagi seluruh warga masyarakat, baik di Kota Yogyakarta maupun di seluruh Indonesia.
BACA JUGA:
Yogyakarta Rawan Kejahatan Malam, Polisi Gencarkan Patroli
Beberapa program dalam FSY meliputi Sayembara Puisi Nasional, Radio Sastra, Webinar “Jaring Festival Sastra Nusantara,” Workshop Penulisan, Kafe Sastra, Angkringan Sastra, Panggung Pembukaan, Pasar Buku Sastra, Sastra Liyan, Sastrastri, Sinau Aksara Jawa, Sinau Sesorah, dan Sastra Anak Kampung. [aje/but]






