Surabaya (beritajatim.com) – Balai Kota Surabaya diramaikan oleh lautan manusia yang antusias mengikuti Festival Rujak Uleg. Ribuan pasang mata tertuju pada satu panggung utama, di mana aroma khas rujak uleg berpadu dengan iringan musik tradisional Jawa Timur.
Festival Rujak Uleg 2024, sebuah perayaan istimewa yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga membangkitkan rasa cinta dan kebersamaan di Hari Jadi Kota Pahlawan ke-731.
Lebih dari Sekadar Kuliner
Festival Rujak Uleg bukan sekadar pesta kuliner biasa. Di balik kelezatan bumbu kacang yang kaya rasa dan irisan buah segar, terkandung makna mendalam tentang sejarah dan budaya Kota Surabaya.
Tema “The History of Rujak Cingur” tahun ini menjadi pengingat akan asal-usul hidangan ikonik ini, yang diyakini mencerminkan semangat persatuan dan keberagaman masyarakat Surabaya.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan, rujak uleg diibaratkan sebagai Kota Surabaya, yang di dalam terdapat berbagai suku, agama, serta lapisan masyarakat menjadi satu bagian.
“Seperti rujak uleg, tanpa ada cingur, maka tidak akan terasa. Tanpa ada petis juga akan hambar. Maka dari itu, Surabaya tanpa ada agama Kristen maka terasa hambar, tanpa ada agama Islam juga tidak akan terasa, tanpa ada agama Buddha juga tidak akan terasa. Begitu pula tanpa ada suku, Tionghoa, Jawa, Madura, semuanya tidak akan terasa, maka itulah Surabaya dibangun atas nama kebersamaan seperti rujak uleg,” jelas Eri.
Perpaduan Tradisi dan Modernitas
Lebih dari 128 peserta dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Surabaya memeriahkan fashion show dengan busana bertema “Akulturasi Budaya Surabaya”. Di atas catwalk, terpancar perpaduan indah antara budaya Eropa, Oriental, Ampel, dan ciri khas lokal Surabaya.
“Sebuah gambaran nyata bagaimana kota ini telah berkembang dan beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya,” kata Eri.
Teatrikal yang Menggugah Semangat
Suasana semakin meriah dengan penampilan teatrikal yang menceritakan kisah perjuangan rakyat Surabaya melawan penjajah Belanda.
Wali Kota Eri Cahyadi dan Wakil Wali Kota Armuji langsung memerankan karakter dalam cerita ini. Penampilan mereka yang penuh semangat membangkitkan rasa nasionalisme.
“Tadi kan disampaikan bagaimana cerita teatrikal sedikit, Surabaya diduduki Belanda. Ketika itu, Belanda meminta agar warga pindah dari Kota Surabaya untuk dikuasai. Tetapi, bagaimana warga Surabaya menjadi satu kesatuan mengusir Belanda, dan itu dituangkan di dalam rujak uleg,” ungkap dia.
731 Porsi Rujak Uleg untuk Rakyat
Sebagai simbol rasa syukur di Hari Jadi Kota Surabaya, Pemkot Surabaya menyajikan 731 porsi rujak uleg, sesuai dengan angka peringatan tahun ini.
Ribuan pengunjung pun antusias mencicipi hidangan istimewa ini, merasakan kelezatan yang menyatu dengan rasa kebersamaan dan kecintaan terhadap kota tercinta.
Lebih dari Sekedar Festival
Festival Rujak Uleg 2024 bukan hanya tentang makan dan hiburan. Di balik kemeriahannya, terpancar harapan dan tekad kuat untuk membangun Surabaya yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Pembentukan Kampung Madani, sebuah konsep komunitas yang mengedepankan gotong royong dan persatuan, menjadi bukti komitmen Pemkot Surabaya dalam mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. [rio/but]






