Gaya Hidup

Dalam Sejarah, Penari Jathil Adalah Laki-Laki

LINCAH : Penari Jathil Laki-laki kembali unjuk kebolehan dalam pembukaan grebeg suro beberapa hari yang lalu. (Foto : Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Setelah hampir tiga dekade menghilang, kini penari jathil laki-laki kembali dihadirkan di pementasan reyog. Itu terlihat dalam pembukaan grebeg suro beberapa hari lalu, beberapa penari laki-laki begitu luwes dan lincah dalam membawa eblek, serasa seperti pasukan berkuda sungguhan.

Dalam pagelaran seni reyog, jathil merupakan salah satu penampilan yang selalu ditunggu-tunggu. Karena memiliki daya tarik gerakan tarian yang gemulai yang bisa menyihir penonton. Umumnya sekarang, penari jathil adalah wanita. Padahal, kalau merunut sejarah, salah satu tari dalam kesenian reyog itu ditarikan oleh kaum adam.

”Dulu tarian jathil itu dilakukan oleh laki-laki,” kata Agung Priyanto, laki-laki yang pada masa mudanya dulu pernah menjadi jathil, Kamis (29/8/2019).

Politisi dari PDI Perjuangan itu mengenang, bahwa dulu menjadi jathil lanang adalah sebuah kebanggan. Tetapi  sekarang ada pergeseran, jathil yang dulu identik dengan laki-laki, sekitar tiga dekade lalu diperankan oleh wanita.

”Seiring perkembangan zaman, terkadang kita perlu merubah sebuah kesenian dan kebudayaan, agar dapat diterima masyarakat banyak,” katanya.

Hilangnya penari jathil laki-laki sekarang ini, diakui Agung adanya stigma negatif yang melekat pada mereka. Karena kebanyakan masyarakat menganggap jathil laki-laki itu sebagai gemblak.

”Padahal antara jathil laki-laki dan gemblak itu berbeda,” katanya.

Agung menjelaskan jika jathil laki-laki merupakan murni seorang penari. Sedangkan gemblak dalam budaya masyarakat Ponorogo dulu, merupakan sosok laki-laki muda ganteng dari keluarga yang kurang mampu. Kemudian diasuh oleh pimpinan group reyog atau sesepuh warok. Gemblak bertugas melayani apa yang diinginkan pengasuhnya. Dimana pengandaiannya kelak akan diberi upah berupa anak sapi atau pedet.

”Jaman dulu itu anak sapi sangat berharga bagi warga. Kalau sudah besar bisa untuk membajak sawah,” pungkasnya.(end/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar