Banyuwangi (beritajatim.com) – Kelangkaan gas elpiji 3 Kg di Banyuwangi masih belum berakhir. Pasalnya di beberapa titik masih ditemukan warga yang sambat kesulitan mendapatkan gas melon itu. Namun demikian, kondisi tersebut justru menjadi peluang manis bagi sejumlah warga. Khususnya bagi mereka para perajin tungku kayu.
Ya sejak gas elpiji 3 Kg sulit dicari, pesanan tungku kayu justru naik tajam. Salah satunya seperti yang dialami oleh Satomin, perajin tungku klasik asal Dusun Panjen, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu.
Sejak beberapa hari terakhir, stok tungku kayu miliknya banyak diburu warga. Bahkan, dirinya sempat kehabisan stok lantaran permintaan yang cukup tinggi. “Tersisa tiga tungku saja, ini pun juga sudah dipesan. Semuanya sudah diambil (terjual) orang. Setelah ini produksi lagi,” ungkap Satomin.
Satomin Joyo memang menjadi perajin tungku kayu sejak 2003 lalu. Tungku kayu miliknya juga beda, karena terbuat dari pasir beton dengan kerangka besi. “Sudah lama tidak pakai tanah liat. Pakai besi dan beton, sehingga dari segi kekuatan jadi lebih kuat,” terangnya.
Hasil produksinya diberi nama merk tungku apolo. Ciri khasnya memiliki warna merah merona. “Sehari paling memproduksi hanya 6 tungku,” katanya.
Itupun, kata Satomin, juga masih tergantung dengan cuaca. Setiap kali produksi hingga siap jual kira-kira butuh sebulan. “Cukup lama, karena butuh agar adonan beton bisa mengering sempurna di bawah sinar matahari,” ungkapnya.
Meski seolah mendapat rejeki nomplok, namun dirinya justru tak berharap demikian. Pasalnya, masih banyak yang kesulitan lantaran langkanya gas elpiji 3 Kg ini.
Dirinya juga ingin kondisi tidak berlarut. Sehingga warga dapat kembali beraktivitas tanpa rasa khawatir karena kesulitan memasak. “Ya semoga kelangkaan ini lekas ada solusi. Supaya masyarakat tidak terus-menerus menderita dan kami juga berharap kepedulian pemerintah terhadap usaha kecil seperti ini,” pungkas Satomin. (rin/kun)
BACA JUGA:
Berhasil Tekan Inflasi, Banyuwangi Dapat Dana Insentif Rp. 12,29 Miliar






