Magetan (beritajatim.com) – Krisis kelangkaan gas elpiji 3 kilogram sedang melanda Kabupaten Magetan. Di kawasan parkir timur Alun-Alun, yang biasanya dipadati pedagang kaki lima saat sore hari, aktivitas kini terlihat jauh lebih sepi. Bukan karena menurunnya pembeli, melainkan karena para pelaku usaha kecil tidak lagi memiliki cukup pasokan gas untuk memasak.
Tabung elpiji bersubsidi yang biasa dijual dengan harga terjangkau kini langka di pasaran. Bahkan, beberapa pedagang mengaku harus berebut hanya untuk mendapatkan satu tabung, itu pun dengan harga yang melonjak tajam. “Satu tabung sekarang Rp28 ribu dan rebutan. Padahal saya butuh tiga buat bisa jualan,” kata Eko, penjual batagor, Rabu (25/6/2025).
Selama sepekan terakhir, kelangkaan mulai terasa, namun tiga hari terakhir menjadi puncaknya. Di hampir seluruh pangkalan, tabung gas melon kosong. Banyak pelaku UMKM terpaksa menghentikan aktivitas dagangnya. Sebagian meminjam tabung dari sesama pedagang yang memilih tidak berjualan.
Purnomo, penjual seblak, mengaku hanya bisa mengoperasikan satu kompor karena stok terbatas. Ia menduga kelangkaan disebabkan meningkatnya konsumsi gas karena hajatan warga. “Setiap ada hajatan, biasanya gas sulit dicari,” ujarnya.
Sementara itu, pedagang lain seperti Ratin bahkan memilih menutup lebih awal karena takut kehabisan gas saat melayani pelanggan. Di kecamatan seperti Parang, kondisi serupa terjadi. Damiati, penjual kopi, mengaku sudah tiga hari tidak berjualan. Ia rela membayar berapa pun, asalkan gas tersedia, namun hasilnya nihil.
Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Magetan, Sucipto, menyebutkan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pertamina dan para agen. Berdasarkan data resmi, distribusi diklaim dalam kondisi normal, dengan alokasi harian mencapai 23.277 tabung dari 19 agen dan 826 pangkalan.
Namun, untuk meredam lonjakan kebutuhan yang terjadi menjelang 1 Muharram, Disperindag mengumumkan penambahan distribusi sebanyak 19.040 tabung. Tambahan itu akan disalurkan secara merata mulai Rabu hingga Sabtu pekan ini ke berbagai titik di Kabupaten Magetan.
Pemerintah daerah juga mengingatkan bahwa elpiji 3 kilogram hanya diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan usaha mikro. Penggunaan untuk usaha berskala besar seperti restoran, kafe, hajatan massal, atau peternakan tidak dibenarkan, karena akan mengganggu rantai distribusi dan menciptakan kelangkaan buatan.
Kelangkaan gas elpiji 3 kg telah menimbulkan efek berantai yang signifikan terhadap keberlangsungan UMKM di Magetan. Di balik tabung melon yang kosong, tersimpan nasib ribuan pedagang yang tak bisa mencari nafkah. Dengan adanya tambahan distribusi, masyarakat berharap pasokan kembali stabil dan aktivitas ekonomi lokal bisa pulih seperti sediakala. [fiq/ian]






