Jember (beritajatim.com) – Sentilan Trimedya Panjaitan, politisi PDI Perjuangan dan anggota Komisi III DPR RI, terhadap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memunculkan reaksi dari Ganjarist Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Sebagaimana dilansir sejumlah media massa, Trimedya menyebut Ganjar ‘kemlinthi’ karena terlihat terlalu bernafsu menjadi calon presiden. Kemlinthi adalah kosakata bahasa Jawa yang artinya kebanyakan tingkah. “Harusnya sabar dulu dia jalankan tugasnya sebagai gubernur Jateng. Dia berinteraksi dengan kawan-kawan struktur di sana, DPD DPC DPRD provinsi DPRD kabupaten/kota, itu baru,” katanya.
Trimedya juga mempertanyakan kinerja Ganjar selama jadi gubernur Jateng. “Ganjar apa kinerjanya delapan tahun jadi gubernur, selain main di medsos? Apa kinerjanya?” katanya.
Ketua Ganjarist Jember Agus Hadi Santoso menilai Trimedya telah bertindak tak etis. “Saya selaku Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember 2004-2009 prihatin dengan Trimedya yang mengkritik habis-habisan Pak Ganjar yang juga temannya sendiri. Seharusnya itu tidak muncul dari Trimedya,” katanya, Minggu (5/6/2022).
Agus mengingatkan, pernyataan Trimedya tersebut bisa membahayakan PDI Perjuangan sendiri. “PDI Perjuangan akan ditinggalkan oleh basis massa, terutama mantan-mantan (pengurus). Mereka gerah, karena belum pernah ada orang PDIP mengkritisi habis-habisan sesama PDIP. Apalagi Pak Ganjar belum pernah menyatakan diri akan mencalonkan presiden. Dia didorong-dorong rakyat,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ganjar-pranowo”]
“Tidak pantas sesama kader melakukan itu. Kami dari relawan Ganjarist tidak pernah mendiksreditkan Bu Mega, PDIP, atau Mbak Puan. Kami tidak pernah mengkritik mereka. Kalau dibalik, apa yang pernah dilakukan Puan untuk Indonesia? Kan bisa seperti itu. Akhirnya runyam. Seharusnya sesama kader tidak boleh begitu,” kata Agus.
Agus menyatakan dirinya sama seniornya dengan Trimedya di PDI Perjuangan. “Kami sama-sama berjuang dalam Pro Mega. Saya tahu betul riwayat PDI Perjuangan. Apalagi saya keturunan orang Partai Nasional Indonesia. Tidak usahlah seperti itu Trimedya,” katanya.
“Pamor dan rating elektabilitas Ganjar naik terus, kok malah dimarahi? Apakah Trimedya tahu apakah Bu Mega tidak akan merekom Ganjar? Kan juga tidak tahu. Hari ini hak prerogatif ada di Bu Mega. Kalau nanti Ganjar yang direkomendasi, apa Trimedya tidak malu?” kata Agus. [wir/but]






