Malang (beritajatim.com) – Popularitas Roblox di kalangan anak-anak dan remaja Indonesia memicu perdebatan soal manfaat dan risiko yang ditimbulkan. Platform game online ini dinilai memiliki potensi sebagai media edukasi, namun juga menyimpan ancaman berupa konten negatif jika tidak diawasi dengan baik.
Dr. Arina Restian, dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menegaskan bahwa Roblox memiliki dua sisi yang harus diwaspadai.
Positifnya, Roblox dapat mengasah kemampuan matematika, fokus, dan strategi anak. Tapi, ada juga sisi negatif seperti kekerasan dan pornografi yang dimunculkan oleh oknum.
Kekhawatiran serupa sebelumnya juga disampaikan Menteri Pendidikan, Riset, dan Teknologi serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Keduanya menilai Roblox berpotensi membahayakan anak jika tidak diawasi secara ketat, terutama karena risiko interaksi bebas, cyber bullying, hingga paparan konten yang tidak pantas.
Menurut Arina, pendampingan dari orang tua dan guru mutlak diperlukan agar Roblox bisa digunakan secara aman sekaligus bermanfaat. Ia menilai, platform ini dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran anak usia sekolah dasar dengan pendekatan project-based learning.
“Anak bisa belajar sambil bermain, dan guru dapat menyampaikan materi dengan lebih menarik,” ujar Arina.
Pakar pendidikan ini juga menekankan pentingnya mematuhi payung hukum, seperti UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, yang melarang akses konten dewasa bagi anak-anak.
Arina memaparkan sejumlah langkah untuk melindungi anak dari konten negatif, di antaranya. Pertama, menggunakan fitur kontrol usia resmi untuk membatasi akses sesuai kategori umur.
Kedua, edukasi literasi digital, seperti mengajarkan anak membatasi informasi pribadi, menolak ajakan mencurigakan, dan mengenali risiko interaksi daring. Ketiga Kolaborasi sekolah dan orang tua, misalnya dengan menggunakan server privat yang diawasi admin dari kedua pihak.

Ia menambahkan, pemerintah juga telah memfasilitasi pelatihan coding yang relevan dengan pembuatan konten Roblox. “Potensinya besar jika diarahkan untuk pendidikan. Yang penting, anak-anak dikontrol dengan ketat agar pembelajaran tetap aman dan menyenangkan,” kata Arina.
Arina merumuskan tiga kata kunci utama agar Roblox dapat digunakan secara berkelanjutan dan aman, yaitu pertama keamanan digital anak terjamin. Kedua, produktivitas anak terjaga, tidak sekadar bermain tanpa tujuan. Ketiga, bekal literasi digital yang memadai agar anak tidak mudah tertipu atau terjerumus.
Ia menutup dengan rekomendasi sinergi lintas sektor, mulai dari dunia pendidikan, teknologi informasi, lembaga perlindungan anak, hingga pemerintah, agar pemanfaatan game edukasi sesuai regulasi yang berlaku.
“Sinergi kebijakan diperlukan supaya penggunaan game edukasi seperti Roblox tetap aman, produktif, dan sejalan dengan aturan,” pungkasnya. (dan/but)






