Surabaya (beritajatim.com) – Sebagai bentuk kepedulian terhadap berbagai peristiwa kekerasan terhadap anak, sekelompok pelajar dari beberapa SMA dan SMK di Surabaya dan Sidoarjo yang tergabung dalam kelompok belajar SINAUSINEMA mengadakan Gala Premier Film Surga Dalam Bingkai Kayu (SDBK) dan Diskusi Tentang Perlindungan Anak di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur. Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat dari wilayah Jawa Timur, para pendukung acara, filmmaker, seniman, pendidik, serta orang tua dari para kru dan talent sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terima kasih.
Selama liburan sekolah bulan Juni lalu, 32 pelajar dari SMKN 12 Surabaya, SMKN 1 Surabaya, SMAN 15 Surabaya, dan SMK Antartika 2 Sidoarjo bekerja sama untuk memproduksi film SDBK. Mereka membagi tugas sesuai minat dan passion masing-masing, bahkan berinisiatif dan bersedia patungan untuk membiayai produksi film yang mereka kelola sendiri. Menariknya, dalam pengambilan gambar dan perekaman audio, mereka hanya menggunakan smartphone, yang mereka sebut sebagai “CINEMAXPHONE.”
Proses produksi film ini dibimbing oleh empat mentor: Syarif Wajabae yang membimbing urusan manajerial, Herman Cahyadi yang mengurusi tata artistik dan teknis, Heirosay yang membimbing penulisan cerita dan penyutradaraan, serta Yasin Alraviri yang membimbing tata audio dan musik. Film ini menggunakan latar lokasi di Kecamatan Bulak, Kota Surabaya, dan Dapoer Oemoem Studio Aminoto Rungkut. Proses produksinya didukung oleh berbagai pihak, mulai dari peminjaman tempat, perizinan lokasi, hingga bantuan konsumsi dan transportasi.

Heirosay, inisiator SINAUSINEMA yang kini memasuki tahun kelima, berharap bahwa konsep gotong royong dan kolaborasi ini dapat menjadi stimulus positif bagi generasi muda. “Semoga belajar dan berkarya terasa begitu bahagia,” ujarnya. Sementara itu, Syarif Wajabae selaku produser mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu produksi film, terutama orang tua para pelajar yang terlibat.
Herman Cahyadi, mentor bidang teknis, menjelaskan bahwa film ini melibatkan banyak pihak dan mengedepankan kolaborasi non-finansial. “Kolaborasi ini mengajarkan para pelajar untuk berinisiatif dan menemukan solusi melalui diskusi kritis,” tuturnya. Yasin Alraviri juga menambahkan bahwa para pelajar tersebut berbakat dan peka dalam merespons, khususnya di bidang audio.
Setelah penayangan film SDBK, acara dilanjutkan dengan diskusi tentang perlindungan anak yang menghadirkan empat pembicara: Linda Hartati, S.Psi (Anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya), Fitroh Chumairoh (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Jawa Timur), Afrian Arisandy (Komite Film Dewan Kesenian Sidoarjo), dan Abdul Ghoni Mukhlas Ni’am (Anggota DPRD Kota Surabaya). [but]






