Sumenep (beritajatim.com) – Sejumlah aktivis Forum Masyarakat Sumenep Peduli (FMSP) berunjukrasa ke Pemkab Sumenep, Kamis (03/11/2022). Mereka mempertanyakan status kepemilikan dan pengelolaan Masjid Agung Sumenep.
“Kewenangan takmir itu apa? Kok bisa dengan semena-mena membubarkan Road Race yang menjadi bagian pesta rakyat dalam hari jadi Kabupaten Sumenep,” kata korlap aksi, Nurahmat.
Para pengunjuk rasa juga membentangkan poster-poster bertuliskan, ‘Sumenep sekarang bukan kerajaan’, ‘Takmir masjid tidak paham tugas dan fungsinya’, ‘sifatmu cerminan aklaqmu’, masjid jangan dijadikan alat kepentingan pribadi’.
Nurahmat mengaku kecewa atas pembubaran tersebut. Karena itu, ia meminta ketegasan pemerintah daerah untuk status pengelolaan masjid jamik. “Masjid jamik itu disubsidi pemerintah. Air dan listrik dibayar pemerintah dari uang rakyat. Mangkanya Pemkab harus tegas terhadap pengacau yang mengatasnamakan takmir masjid jamik,” tandasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”masjid-jamik-sumenep”]
Ia mengatakan, fungsi takmir masjid seharusnya tidak masuk ke pemerintahan. Menurutnya, kejadian pembubaran ajang road race itu telah merugikan dan mencoreng nama Sumenep.
“Kejadian kemarin adalah jamaah undangan yang mengatasnamakan takmir. Mengobok-obok pesta rakyat dengan cara kriminal. Bubarkan takmir gak jelas itu,” ujarnya.
Pada Minggu (30/10/2022) ajang Road Race Bupati Cup Sumenep dan Supermoto Open Championship 2022 dihentikan paksa oleh remaja masjid dan pengurus takmir Masjid Jamik Sumenep.

Penghentian itu dilakukan dengan dalih saat selawat menjelang azan zuhur sudah berkumandang dan terdengar dari pengeras suara masjid Jamik Sumenep. Namun, kegiatan Road Race tetap berlangsung. Mereka menilai kegiatan road race mengganggu ibadah.
Pengurus remaja masjid Jamik Sumenep langsung masuk ke tengah arena Road Race. Memprotes keras kegiatan road race, sambil membawa jeriken berisi bensin. Beruntung situasi bisa diredam oleh aparat keamanan.
Sementara Kabag Hukum Pemkab Sumenep, Hisbul Wathan mengaku siap menindaklanjuti aspirasi pengunjuk rasa. Ia berjanji akan membuat konsep untuk pengelalolaan masjid jamik.
“Kami minta waktu satu minggu. Setelah itu, kami akan menyampaikan konsep itu,” katanya. (tem/ted)






