Kediri (beritajatim.com) – FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) dan Kementrian Agama Kota Kediri mengajak pemuda lintas agama untuk menolak ujaran kebencian dan hoax. Ajakan ini dalam rangka menyongsong Pilkada 2024.
Basyaruddin selaku Ketua Kegiatan Pekan Budaya Islam mengatakan, melalui acara ini para pemuda lintas agama diajak mengambil suatu sikap untuk mendukung program pemerintah yakni Pilkada serentak sekaligus bersepakat untuk menolak hal-hal yang ujaran kebencian seperti hoax.
“Nah kita coba mulai dari kepemudaannya dulu, jangan sampai nanti pemudanya ya gegeran, masalah ini lah akhirnya kita ambil sikap kegiatan ini menolak hal-hal yang kira-kira berbau hoax menjelang Pilkada,” katanya di Masjid Agung Kota Kediri, pada Selasa (9/7/2024).
Acara ini diselenggarakan dalam satu rangkaian acara Pekan Budaya Islam di tempat yang sama dari 6 -15 Juli 2024. Acara ini mengundang 2 narasumber yaitu Ketua FKUB Kota Kediri Moh. Salim dan Ketua PWI Kediri Raya Bambang Iswahyoedhi.
Pihaknya berharap, pelaksanaan Pilkada November bisa berlancar serta diharapkan bisa mendukung kegiatan tersebut sesuai dengan masing-masing profesi.
Di tempat yang sama, Ketua FKUB Kota Kediri Moh. Salim mengatakan jika melalui acara ini diharapkan para pemuda nantinya kedepan agar bisa menjadi pemimpin-pemimpin yang berjiwa besar seperti menghargai yang kecil, dan menghormati yang besar untuk mempertahankan NKRI.
“Tentu saja kelangsungan nkri ini tanggung jawab terbesar ada pada umat Islam dan ada unsur yang lain, Kami yang diberangkatkan dari NU adalah mempunyai tanggung jawab bahwa slogan muktamar dulu itu merawat jagat membangun peradaban itu adalah merupakan tanggung jawab kita semua,” ucapnya.
Salim juga berharap dengan mempertemukan para pemuda lintas agama nantinya bisa sama-sama punya tanggung jawab untuk melestarikan kelangsungan hidup NKRI, sekaligus mengajak diskusi dengan ending agar masyarakat Kota Kediri ini tetap aman, damai dan kondusif.
Ketua PWI Kediri Raya Bambang Iswahyoedhi mengatakan jika pada acara ini membawakan materi tentang bagaimana mewujudkan Pilkada untuk menolak hoax dan ujaran kebencian.
“Jadi kita lihat salah satu faktor yang menjadi problematik dan menjadi benturan yang ada di alam demokrasi Indonesia adalah masa 2 faktor ini, diharapkan dengan kita memberikan materi ini kepada para peserta bisa paham, tahu dan apa yang harus dia lakukan pada saat mengalami hal-hal berita berita yang bermasalah dan ujaran kebencian,” pungkasnya.
Dia memberikan tips pada saat menemukan berita yang diduga bermasalah seperti harus tahu verifikasinya, kontennya, pastikan sumbernya harus jelas, lalu juga bisa diverifikasi ke platform-platform. [nm/suf]






