Malang (beritajatim.com) – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional melalui penyelenggaraan Workshop Topeng Malangan di Vietnam. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian penandatanganan kerja sama akademik antara FISIP UB dan Ho Chi Minh City Open University (HCMCOU), sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi sebagai aktor diplomasi budaya global.
Workshop yang diikuti sekitar 60 mahasiswa HCMCOU tersebut berlangsung interaktif dengan menghadirkan sesi pengenalan sejarah dan filosofi Topeng Malangan serta praktik langsung melukis topeng. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif mereka selama kegiatan berlangsung, baik dalam diskusi maupun praktik seni.
Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UB, Reza Safitri, S.Sos, M.Si, Ph.D., mengatakan bahwa kegiatan yang berlangsung pada Rabu (22/4/2026) ini merupakan bagian dari strategi diplomasi budaya yang diintegrasikan dalam kerja sama internasional. Ia menegaskan bahwa pendekatan budaya dinilai efektif dalam membangun hubungan antarnegara.
“Workshop Topeng Malangan ini merupakan bentuk nyata diplomasi kebudayaan yang kami bawa dalam setiap misi kerja sama internasional,” ujar Reza dalam keterangannya kepada beritajatim.com, Jumat (24/4/2026)
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya berhenti pada pengenalan seni tradisional, tetapi juga diarahkan untuk membuka peluang kolaborasi akademik yang lebih luas. Ia menambahkan bahwa FISIP UB ingin menjadikan budaya sebagai pintu masuk penguatan kerja sama di bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat.

Reza juga menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat berkelanjutan dan berdampak lebih luas. “Ke depan, kami berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti sebagai pengenalan budaya, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi penguatan kolaborasi akademik dalam bidang pemberdayaan dan pelestarian budaya,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa inisiatif tersebut sejalan dengan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, kerja sama internasional tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan budaya.
Dalam kegiatan tersebut, Reza hadir bersama Sekretaris International Relation Office (IRO) FISIP UB Dewa Putu Ayu Eva Wishati, serta staf ahli Ika Rizky Yustisia dan Novy Setia Yunas. Kehadiran delegasi ini sekaligus memperkuat komitmen institusi dalam menjalin hubungan internasional yang berkelanjutan.
Topeng Malangan yang diperkenalkan dalam workshop merupakan warisan budaya khas Malang, Jawa Timur, yang memiliki akar sejarah sejak era Kerajaan Singhasari hingga Majapahit. Seni ini berkembang dalam tradisi Wayang Topeng Malangan dan sarat nilai filosofis kehidupan.
Sejumlah karakter seperti Panji Asmoro Bangun, Dewi Sekartaji, Gunung Sari, Dewi Ragil Kuning, Klana Sewandana, dan Bapang diperkenalkan kepada mahasiswa HCMCOU sebagai representasi nilai-nilai seperti kebajikan, kesetiaan, ambisi, dan kekuasaan. Selain sebagai seni pertunjukan, Topeng Malangan juga berfungsi sebagai media pendidikan moral dan identitas budaya.
Peserta workshop terlihat tertarik dengan nilai-nilai yang terkandung dalam seni tersebut. Mereka menilai kegiatan ini memberikan pengalaman baru dalam memahami budaya Indonesia secara langsung.
FISIP UB menilai langkah ini untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai aktor diplomasi budaya. Selain mempererat hubungan Indonesia dan Vietnam, workshop ini juga membuka peluang kerja sama lanjutan di bidang riset, pendidikan, dan pelestarian budaya.
“Melalui kegiatan ini, FISIP UB berkomitmen untuk tidak hanya memperkuat kerja sama akademik internasional, tetapi juga memperluas peran sebagai aktor diplomasi budaya dalam memperkenalkan warisan budaya Indonesia di kancah global,” kata Reza Safitri menutup. [dan/aje]






