Malang (beritajatim.com) – Prof. Dr. Eng. Abu Bakar Sambah, S.Pi., MT., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu pemetaan sumber daya pesisir dan laut di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Pidato pengukuhannya menghadirkan paparan mendalam mengenai sebuah inovasi penting bernama Fishhab-Spatial Dynamic.
Prof. Dr. Eng. Abu Bakar Sambah, S.Pi., M.T., menyampaikan pidato berjudul FishHab-Spatial Dynamic: Pemetaan Habitat Ikan dengan Pendekatan Spasial-Temporal. Model ini menawarkan pendekatan baru dalam memahami dan mengelola habitat ikan dengan mengintegrasikan teknologi spasial-temporal dan metode multikriteria.
Fishhab-Spatial Dynamic dirancang menjawab tantangan besar dalam pengelolaan sumber daya laut. Termasuk dampak perubahan iklim, degradasi ekosistem, dan eksploitasi berlebihan yang mengancam keberlanjutan sektor perikanan.
Prof. Abu Bakar menjelaskan bahwa model ini menggunakan teknologi geospasial dan data satelit untuk menganalisis pola distribusi ikan secara lebih akurat. “Pendekatan ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah strategis yang sesuai bagi habitat ikan, sehingga pengelolaan kawasan pesisir menjadi lebih efektif dan efisien,” jelasnya, saat konferensi pers, Selasa (6/11/2024).
Melalui pendekatan spasial-temporal, model ini mampu memantau dinamika lingkungan laut dari waktu ke waktu. Misalnya, Fishhab-Spatial Dynamic dapat digunakan untuk memetakan perubahan suhu air laut, arus, dan kualitas habitat yang memengaruhi keberadaan populasi ikan.
Dengan tambahan analisis multikriteria, model ini juga mempertimbangkan faktor sosial-ekonomi, seperti kebutuhan nelayan lokal, kebijakan pengelolaan, dan tekanan terhadap ekosistem. Kombinasi ini membuat Fishhab-Spatial Dynamic tidak hanya relevan dalam penelitian akademik, tetapi dalam implementasi kebijakan perikanan berkelanjutan.
Profesor aktif ke-216 di UB ini menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam menjawab masalah-masalah lingkungan laut. Ia menyatakan bahwa pengelolaan berbasis sains ini memberikan solusi yang dapat diandalkan untuk melindungi ekosistem laut sekaligus memastikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.
“Dengan dukungan teknologi canggih, kita mampu memaksimalkan potensi sumber daya laut tanpa mengorbankan keberlanjutannya,” tambah Guru Besar ke-25 di FPIK, Prof. Sambah.
Inovasi ini juga diharapkan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas perikanan Indonesia. Sebagai salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin global dalam pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.
Fishhab-Spatial Dynamic dapat menjadi alat penting dalam mewujudkan visi tersebut, baik melalui penelitian ilmiah maupun aplikasi praktis di lapangan. Tidak hanya itu, Prof. Abu Bakar menyoroti pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk akademisi, pemerintah, dan pelaku industri.
Menurutnya, sinergi antarstakeholder menjadi kunci utama dalam memastikan pengelolaan yang adil dan berkelanjutan. “Ilmu pengetahuan harus menjadi fondasi dalam setiap pengambilan keputusan. Hanya dengan cara inilah kita dapat menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian sumber daya laut,” katanya.
Sebagai seorang akademisi yang telah banyak berkontribusi dalam bidang kelautan, Prof. Abu Bakar berharap bahwa inovasi ini dapat menginspirasi generasi muda untuk terus melakukan penelitian yang berdampak positif bagi lingkungan.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk mendukung upaya konservasi dan pengelolaan ekosistem laut, sehingga masa depan perikanan Indonesia dapat terjamin. Dengan pengembangan Fishhab-Spatial Dynamic, Universitas Brawijaya semakin mempertegas perannya sebagai salah satu institusi terdepan dalam riset kelautan di Indonesia. (dan/kun)






