Surabaya (beritajatim.com) — Rumah produksi Falcon Pictures kembali menarik perhatian publik setelah merilis poster resmi film terbarunya berjudul Waluh Kukus. Pengumuman tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi Falcon Pictures pada Senin (10/11/2025). Film ini pun dikabarkan akan segera tayang di bioskop Indonesia.
“Masih ingat cerita Kak @ainthebooks. Siap-siap ketemu Yati di bioskop Waluh Kukus segera!,” tulisnya menyertai unggahan poster tersebut.
Menariknya, Waluh Kukus bukan cerita fiksi biasa. Film ini diadaptasi dari thread viral di media sosial X (dulu Twitter) yang sempat menggemparkan warganet sejak tahun 2021. Thread tersebut ditulis oleh pengguna dengan nama akun @ainayed, dan sejak itu kisahnya melekat kuat di ingatan banyak orang. Tak sedikit warganet yang mengaku masih “trauma” setiap kali melihat makanan waluh kukus atau labu kuning, lantaran kisah pilu di baliknya.
Kisah Waluh Kukus
Dalam thread viral itu, @ainayed menceritakan pengalaman masa kecilnya yang tumbuh di keluarga sederhana. Sang ayah pergi entah ke mana, sementara ibunya bekerja serabutan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Upahnya kadang berupa uang, kadang hanya bahan makanan. Suatu hari, sang ibu membantu tetangga memanen waluh atau labu kuning.
Sebagai imbalan, ia membawa pulang dua buah waluh—satu kecil dan satu besar.
Setelah menunggu hingga matang, sang ibu memutuskan mengolah waluh itu menjadi takjil sederhana untuk anak-anak yang sedang tadarus di langgar (musala kecil).
Namun karena keterbatasan bahan dan biaya, waluh tersebut hanya dikukus tanpa tambahan gula atau santan. Dengan penuh rasa syukur, sang ibu berkata, “Alhamdulillah, bisa nyumbang takjil buat orang ngaji. Belum pernah ngasih apa-apa sebelumnya.”
Sayangnya, niat tulus itu justru berujung menyedihkan. Dari belasan anak yang hadir, hampir tak ada yang mau menyentuh waluh kukus itu. Salah satu anak bernama Yati, bahkan mengejeknya.
“Hii, panganan opo iki? Mosok koyok taek ngene dikekno uwong?” (Hii, makanan apa ini? Masak kayak tai begini dikasih ke orang?)
Ucapan tersebut membuat sang penulis kecil hati. Ia, yang saat itu duduk di kelas 4 SD, mencoba membela ibunya namun justru ditertawakan teman-temannya.
Tak berhenti di situ, waluh yang masih tersisa banyak itu pun kemudian dibawanya kembali. Namun karena tak ingin ibunya bersedih, di tengah perjalanan pulang, ia berusaha memakan labu kukus tersebut sebanyak yang ia bisa.
Setelah memakan hampir setengahnya, ia pun melanjutkan perjalanan. Namun nahas, saat melewati jalanan yang cukup gelap, kakinya tidak sengaja tersandung, sehingga membuat sisa waluh kukus terjatuh dan berantakan di tanah. Ia pun berpikir untuk menghilangkan jejak, dengan melemperkan sisa waluh kukus tersebut ke selokan. Di tengah tangis kesedihannya, ia pun sampai muntah-muntah.
Dari kisahnya yang sederhana tetapi menyentuh hati tersebut, thread “Waluh Kukus” ini pun terus dikenang warganet hingga kini. Banyak pengguna media sosial yang mengaku tak bisa melupakan kisah tersebut. Setiap kali melihat waluh kukus, sebagian orang langsung teringat pada sosok Yati yang dianggap keterlaluan.
Falcon Pictures pun mencoba menghidupkan kembali kisah legendaris ini ke layar lebar. Meski pihaknya belum mengumumkan siapa yang akan turut berperan dalam film ini. (fyi/kun)






