Yogyakarta (beritajatim.com) – Bakal Calon Presiden (Bacapres) Anies Baswedan mengaku kebebasan berpendapat di Indonesia saat ini masih sangat rendah. Hal ini dia sampaikan dalam Dialog Kebangsaan, 3 Bakal Calon Presiden (Bacapres) Bicara Gagasan, Selasa sore (19/9/2023) di kampus UGM Yogyakarta bersama Najwa Shihab dalam Mata Najwa.
“Selama masih harus menggunakan kata Wakanda untuk menyebut negara kita Indonesia maka kebebasan pendapat masih dianggap sangat rendah,” jelasnya.
Saat Najwa Shihab meminta Anies memberikan skor untuk menilai kebebasan berpendapat, Anies mengeluarkan pendapat bahwa di Indonesia memiliki skor subjektif kisaran 5 hingga 6.
Hal ini perlu diubah sehingga dirinya menyebut dalam koalisi perubahan ini juga meliputi banyak hal utamanya juga mencakup hal dimana seseorang dapat mengeluarkan pendapat dengan bebas tanpa takut terintimidasi dan sebagainya.
Di bagian lain, Anies menyebut soal transparansi tatanan dalam kehidupan pemerintahan dan institusi yang harus dilakukan mulai tingkat bawah hingga atas.
BACA JUGA: Anies Baswedan Tawarkan 14 Kota Pusat Ekonomi
“Transparansi di instansi Kepolisian hendaknya dilakukan mulai tingkat bawah (Polsek) hingga atas termasuk akuntabilitas juga harus terjaga,” jelasnya.
Intitusi Kepolisian, lanjut Anies, perlu dilakukan pengembangan profesionalitas dan kompetensi. Hal ini terjadi karena fakta di lapangan banyak yang duduk menjadi anggota Kepolisian, namun minim sekali dari sisi keterampilan dan kompetensi baru sehingga mereka bekerja masih menggunakan teknik lama.
“Misalnya ilmu mengenai praktik melakukan interogasi sudah maju dan berkembang namun aparat masih saja ada yang menggunakan cara cara kuno,” tegasnya.
Anggota Kepolisian imbuh Anies seharusnya menjadi contoh baik di masyarakat karena mereka adalah penegak hukum.
Pelibatan publik dalam pengawasan institusi Kepolisian adalah langkah terbaik dan salah satunya pengawasan dapat dilakukan misalnya oleh Ombudsman kemudian disampaikan ke masyarakat.
BACA JUGA: Anies Baswedan Capres Paling Miskin, Rumah Saja Masih Kredit
Tak hanya institusi Kepolisian, KPK juga harus independen seperti dahulu.
“KPK harus independen seperti dulu, KPK jangan jadi ASN karena ini membuat tidak ada ruang untuk mandiri, berikan KPK ruang yang bebas untuk jalankan tugasnya. Meski KPK dibuat independen keberadaannya juga harus tetap ada pengawasan,” bebernya.
Dalam kesempatan ini, Anies diminta berbicara dengan pantulan bayangan dirinya sendiri melalui sebuah kaca cermin besar. Hal ini dimaksudkan untuk refleksi hal apa yang sudah dilalui sebagai seorang Bacapres.
“Wah, ngomong didepan kaca ternyata lebih susah daripada di depan kamera,” kelakar Anies disambut gelak tawa ribuan mahasiswa dosen dan civitas akademika.
Dari refleksi pembicaraannya dengan dirinya sendiri ini Anies menyatakan selalu mengingat dua pesan sakti sang ibu yakni untuk selalu bekerja keras dan menjaga nama baik.
“Ditempat ini di lapangan terbuka saat saya kelas 1 SD di Lapangan Pancasila Sekip (Bulaksumur Sleman Yogyakarta) saya bermain bola dikawasan ini, kemudian tahun 1991 setelah saya masuk UGM yang merupakan cita cita saya sedari kecil kemudian di tahun itu saya jadi ketua panitia Opspek Maba dan tahun kedua sambut adik-adik mahasiswa saya bicara pada mahasiswa baru bagaimana saya sampaikan kepada mereka tentang dinamika menjadi mahasiswa. Di tahun 2015 kembali lagi kesini ceritakan kepada mahasiswa tentang kiprah saya dan hari ini 19 september 2023, seorang anak umur 7 tahun yang main sepakbola di Lapangan Pancasila diminta menyampaikan gagasan untuk menjadi Bacapres,” ujarnya menutup perbincangan. (aje/nap)






