Surabaya (beritajatim.com) – Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel dijadwalkan hadir di bioskop Tanah Air pada tahun 2025.
Meski demikian, rumah produksi Umbara Brothers Film belum merilis tanggal resmi penayangannya. Sebagai pengenalan awal kepada publik, cuplikan perdana film ini telah diputar dalam acara khusus pemutaran film Gundik pada 16 Mei 2025 di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan yang sekaligus menjadi ajang peluncuran proyek film ini ke publik.
Sinopsis Film Ozora
Mengangkat kisah nyata yang sempat mengguncang Indonesia pada tahun 2023, Ozora bercerita tentang David, seorang siswa SMA yang menjadi korban kekerasan sadis oleh Mario, anak dari pejabat tinggi di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.
Tragedi ini bukan hanya menyisakan luka fisik mendalam, namun juga memperlihatkan bagaimana ketimpangan sosial dan kekuasaan bisa menghalangi keadilan.
David, yang dikenal sebagai anak baik dan aktif dalam kegiatan gereja, tiba-tiba harus menghadapi mimpi buruk ketika ia dijebak dan dianiaya dengan keji.
Dipicu oleh masalah pribadi yang dibesar-besarkan, Mario yang tumbuh dalam lingkungan mewah dan penuh privilese melampiaskan kemarahan fisiknya terhadap David.
Ironisnya, aksi kejam ini direkam dan disebarluaskan di media sosial, seakan tanpa rasa bersalah.
Peristiwa mengerikan itu terjadi di kawasan elite Jakarta Selatan, di mana David ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri, dengan cedera parah di kepala hingga harus dirawat intensif dalam kondisi koma. Di saat keluarga David berjibaku di rumah sakit, pelaku justru masih bebas berkeliaran, berlindung di balik nama besar ayahnya.
Disutradarai oleh Anggy Umbara, film Ozora tidak hanya menampilkan penderitaan korban, tetapi juga perjalanan panjang keluarga David dalam memperjuangkan keadilan di tengah sistem hukum yang terasa tumpul ke atas.
Awalnya, penanganan aparat tampak lambat. Namun, gelombang suara publik dan tekanan dari media sosial akhirnya memaksa sistem untuk bertindak.
Dengan pendekatan naratif yang kuat, film ini mengajak penonton menyelami dinamika emosi para tokohnya dari rasa marah, kecewa, hingga harapan untuk keadilan. Pemeran seperti Chicco Jerikho, Muzzaki Ramdhan, Tika Bravani, dan Mathias Muchus hadir memberi warna emosional yang intens pada kisah nyata ini.
Lebih dari sekadar tontonan, Ozora hadir sebagai bentuk seruan moral agar masyarakat tidak melupakan peristiwa ini. Film ini mengangkat isu serius tentang penyalahgunaan kekuasaan, pentingnya akuntabilitas pejabat publik, dan bagaimana sistem keadilan semestinya berpihak pada korban, bukan pada posisi sosial pelaku. [aje]






