Surabaya (beritajatim.com) – Isu sosial tentang daging anjing yang dijual untuk dikonsumsi oleh sebagian masyarakat kita diangkat ke layar lebar. Dibalut dengan cerita yang sederhana namun makna sarat didalam film “Marley” yang dibintangi Tyas Mirasih dan Tengku Tezi serta seekor anjing Pitbul Bernama “Marley”, film ini patut ditonton oleh keluarga Indonesia.
Film garapan sutradara Ridho siap tayang perdana di bioskop pada 17 Maret 2022 di seluruh Indonesia. Selain menyampaikan pesan sosial, film pertama di Indonesia yang diperankan oleh seekor anjing Pitbul tersebut juga menjadi kebanggaan bagi para pecinta satwa, khususnya komunitas pecinta anjing.
Bagi Tengku, hal itu menjadi salah satu tantangan yang tidak mudah dan pastinya membuatnya tidak nyaman selama syuting. “Terus terang belum pernah nyentuh anjing sebelumnya. Jadi bener-bener gak tahu anjing, dan ketemunya Pitbul,” katanya usai Nonton Bareng Film Marley di Surabaya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”film”]
Kata Tengku, Pitbol merupakan tipe anjing yang paling susah diajarin. Paling bandel dan keras kepala. Untuk bisa bersahabat dengan Pitbol, ia membutuhkan pendekatan selama satu bulan sebelum syuting. “Pitbul kita semua tahu, stigmanya mengerikan. Tapi ternyata kalau kita baik dia juga baik. Tergantung pendekatannya,” ungkapnya.
Selain harus bersahabat dengan anjing Pitbul, Tengku juga harus berperan sebagai orang baik. Hal itu, kata dia, sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya berakting yang lebih banyak memerankan sosok antagonis.
“Biasanya memerankan sosok tidak baik, di film ini jadi sosok yang baik, jadi guru matematika pula. Terus tidak pernah menyentuh anjing, ini sama anjing. Pokoknya semuanya bertolak belakang bagi diri sendiri. Memang ini tantangan pertama yang paling sulit,” ujarnya.
Berbeda dengan cerita Tyas Mirasih. Bagi Tyas, anjing merupakan salah satu hewan favorit selain kucing. Bahkan ia tidak berpikir panjang untuk memutuskan membintangi film Marley.
“Aku memang animal lovers, kucing banyak banget. Keluargaku juga pelihara anjing. Jadi sesuatu yang berhubungan dengan binatang menurut aku ada hal yang penting. Dan sebenarnya nama anjing pitbul yang memerankan Marley, namanya Beky,” tuturnya.
Hanya saja, Tyas harus menyesuaikan karakter saat membintangi film Marley. “Karakter kita juga disini memang lumayan berbeda. Kalau aku dulu basicnya protagonis, tapi belakangan antagonis. Tiba-tiba ditawarin lagi protagonis yang kalem, yang baik-baik,” ucapnya.
Tyas berharap, film Marley bisa menjadi media edukasi dan penyadaran bagi masyarakat agar memperlakukan satwa liar seperti anjing, sebagaimana memperlakukan makhluk hidup lainnya. Dia menghimbau penjualan-penjualan daging anjing bisa dihindari meski bagi sebagian masyarakat sudah menjadi kebiasaan. “Apalagi kalau ada hewan-hewan liar, kalau tidak suka ya sudah. Jangan disiksa, tidak usah disakiti, toh mereka juga tidak menyakiti,” tandasnya.
Sekedar diketahui, ide cerita film Marley mengambil latar permasalahan penangkapan anjing yang kian merajalela di Indonesia. Film ini dibuat untuk memberi pesan sosial untuk senantiasa mencintai satwa. Syuting film ini memilih lokasi di Siap Tayang 17 Maret 2022 Film “Marley” Angkat Cerita Persahabatan Anjing Dan Manusia. Yang menarik hasil keuntungan film ini akan digunakan untuk membantu shelter-shelter yang membutuhkan. [way/kun]






