Surabaya (beritajatim.com) – Film animasi bertema nasionalisme berjudul Merah Putih One for All dijadwalkan tayang di bioskop pada 14 Agustus 2025, bertepatan dengan momentum menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, alih-alih disambut antusias, kehadiran film ini justru mendapat banyak kritik dan hujatan dari warganet, bahkan sebelum penayangan perdananya.
Kontroversi ini mencuat setelah poster dan trailer resmi film tersebut dirilis melalui berbagai kanal media sosial. Alih-alih memancing rasa penasaran atau kebanggaan terhadap karya anak bangsa, visual yang ditampilkan justru dianggap tidak memenuhi ekspektasi publik. Banyak pengguna media sosial menilai bahwa kualitas animasi dan desain karakter terlihat ketinggalan zaman dan jauh dari standar industri animasi modern.
Salah satu pengguna dengan akun @akuy*** menyampaikan kritik pedas, “Emang layak kena hujatan sih, bahkan Upin Ipin zaman awal tahun 2000-an masih lebih bagus. Saya ingin tahu anggarannya berapa dan siapa yang bikin base model karakternya. Sebagai penonton awam pun saya bisa bilang ini nggak layak masuk bioskop.”
Komentar serupa juga datang dari akun @moo*** yang menyamakan desain posternya dengan “cover CD bajakan tahun 2000-an”. Ia mengungkapkan kebingungan terhadap pesan yang ingin disampaikan oleh film ini. “Aku nggak tahu atensi mereka apa. Karya anak bangsa model beginian dengan desain yang merusak mata dan batin sedemikian rupa. Apa emang pengen dihujat, nyari sensasi, atau ngabisin dana alokasi?” tulisnya.
Kritik tak berhenti di sisi teknis visual semata. Sebagai penikmat film, (et) moo*** juga menyayangkan kemunculan film ini yang dianggap bisa mencoreng citra dan reputasi para sineas Indonesia yang tengah membangun kepercayaan publik terhadap karya animasi lokal. Ia menyebut bahwa kerja keras kreator seperti Ryan Adriandhy dan Yandy Laurens bisa tercederai oleh proyek yang dinilai tidak dikerjakan secara serius ini.
“Susah payah Ryan bikin Jumbo. Susah payah Yandy bikin Sore sampek ke Finland, susah payah bangun trust warga terhadap film lokal, diacak acak sama proyek bagibagi kue,” lanjutnya.
Film Merah Putih One for All diketahui diproduksi oleh Perfiki Kreasindo dan diproduseri oleh Toto Soegriwo, dengan dukungan dari Yayasan Pusat Perfilman Usmar Ismail serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Film ini mengangkat kisah petualangan delapan anak dari berbagai latar budaya yang bersatu membentuk “Tim Merah Putih” demi menyelamatkan bendera pusaka dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI.
Meski membawa misi mulia soal persatuan dan semangat kebangsaan, respons publik terhadap kualitas awal film ini menunjukkan tantangan besar yang harus dihadapi oleh para pembuatnya. (fyi/ian)





