Surabaya (beritajatim.com) – Institut Français Indonésie atau dikenal sebagai IFI Surabaya, menggelar perayaan musik tahunan musim panas ‘Fête de la Musique’, Sabtu (15/6) hari ini.
Tradisi tahunan dari negara Prancis itu digelar di halaman komplek gedung IFI, Jalan Ratna nomor 14 Surabaya. Dengan turut menghadirkan bintang tamu group breakdance Legiteam Obstruxion dan group DJ TZII, yang berasal dari negara La France tersebut.
Selain dimeriahkan dua bintang tamu asing yang hadir. Semarak budaya menyambut musim panas pertama itu, IFI turut menggelar perlombaan tarik suara dan k-pop dance. Yang diikuti peserta putra putri se Jawa Timur.
Staff Komunikasi IFI Surabaya Felicia Sutanto itu mengatakan, spirit Fête de la Musique ini diperingati untuk umum. Di mana semua lapisan masyarakat penikmat musik dapat menikmatinya secara gratis.
“Fête de la Musique sendiri ini adalah tradisi yang datang dari Prancis, di mana hari pertama musim panas di Prancis itu biasanya mereka suka melakukan kegiatan musik di jalan – jalan di mana semua orang bisa mengakses musik,” ujar Fecilia, Sabtu (15/6/2024).
Menurut Fecilia, rangkaian k-pop dance challenge itu juga bertujuan menyambut Olimpiade Paris 26 Juli mendatang. Yang mana, breakdance pertama kalinya masuk di olimpiade sebagai cabang olahraga (cabor) baru. “Di sini kita juga ada pertunjukan talent, kita ingin membawa spirit Fête de la Musique yang sama di Prancis, ke Surabaya,” jelasnya.
Sementara itu, di lokasi acara sampai menjelang petang para peserta, maupun pengunjung umum tampak antusias. Mereka menikmati pertunjukan musik, k-pop dance, sembari menikmati suguhan bazar.
Wilfried Ebongue, salah satu anggota breakdance Legiteam Obstruxion menceritakan pengalamannya selama meniti karier dance. Kata dia, kunci meraih kejuaraan adalah tekun berlatih. Meskipun, dalam perjalanan menuju sukses tidak selalu mulus.
“Legiteam Obstruxion didapuk sejak tahun 2003 di salah satu kota di Prancis, dan terus bergabung berkembang di tahun 2006. Sekarang personil aktif Legiteam ada 10 orang,” terang Wil.
Wil merasa senang bisa membagikan ilmunya di Fête de la Musique IFI Surabaya. Wil membeberkan, pernah meraih kejuaraan Batle of The Year Paris, juara satu breakdance di Jerman, dan lain – lain.
“Yang paling susah adalah membiayai hidup dari breakdance. Beradaptasi dengan luka dan cidera. Meski begitu, saya tidak pernah berpikiran untuk berhenti breakdance, bahkan mungkin sampai di usia 60 juga boleh lanjut,” tutup Wil di Auditorium IFI Surabaya.
Sekedar informasi, perayaan tahun musik Fête de la Musique oleh IFI Surabaya itu diselingi berbagai macam giat, diantaranya ada workshop breakdance oleh Legiteam Obstruxion, bazar, lalu lucky draw, live painting serta aktivitas permainan tradisional. [kun]






