Malang (beritajatim.com) – Festival Sastra Kota Malang untuk pertama kalinya diadakan di kafe Pan Java, Mulyoagung, Dau, Malang. Acara ini berlangsung selama empat hari, 19 – 22 Oktober 2023, dengan menghadirkan sekitar 90-an pembicara.
Koordinator Komunitas Pelangi Sastra Malang, Denny Mizhar menjelaskan bahwa tema perjumpaan dipilih sesuai dengan keinginan untuk mempertemukan lintas disiplin dengan sastra. Sastra dipertemukan dengan medium seni, film, teater, musik, seni rupa, dan lain-lain.
Tema perjumpaan juga dapat dimaknai tentang keberadaan hal yang perlu dibaca, diingat, dan dibayangkan. “Selain tema perjumpaan, ada juga anak judulnya yakni, mengingat masa lalu, membaca masa kini, dan membayangkan masa depan. Kita coba ingat yang pernah ada, agar eksis di masa kini, dan kita bayangkan masa depan,” ujar pria berambut gondrong itu, Kamis 19 Oktober 2023 malam.
Dalam panggung festival sastra kota Malang, tidak hanya menyajikan sastra modern yang berbahasa Indonesia, tetapi juga sastra daerah yang berbahasa Jawa. Ada pengembangan dari macapat, syair, dan berbagai sastra daerah.
“Bisa juga kita memaknai perjumpaan itu adalah reuni kecil yang memanggil sastrawan yang pernah berproses di Malang, terutama yang muda, untuk menjenguk rumahnya. Kalau kita lihat konstruksi bangunan di Zaman Belanda, Malang itu adalah kota Gemeente tempat peristirahatan kota untuk Kongkow,” katanya.
Deni berharap, momen ini menjadi ajang kongkow dan perjumpaan. Terutama bagi mereka yang pernah berproses, bekerjasama, berkomunikasi, pernah membuat project bersama, atau bersinggungan dengan Malang.
“Kita juga ingin berlanjut agar festival ini rutin diadakan tiap tahun. Namun, kita harus berpikir pola pendanaan karena saat ini difasilitasi pemerintah, jadi sekarang lumayan cukup,” ujarnya.

Festival Sastra Kota Malang tahun 2023 sebagai transformasi dari kegiatan Pekan Sastra yang diprakarsai Komunitas Pelangi Sastra Malang sejak tahun 2018. Tahun 2023 ini, terlaksana dengan pendanaan dari bantuan pemerintah melalui badan pengembangan dan pembinaan bahasa pusat pengembangan dan perlindungan bahasa dan sastra Kemendikbud Ristek.
“Nah sekarang ini acaranya empat hari, diisi dengan rangkaian acara, bazar buku, orasi ilmiah, diskusi, bincang buku, rilis buku, dan lainnya. Festival ini sebagai bentuk usaha Komunitas Pelangi Sastra Kota Malang dalam membangun dan mewadahi ruang kreatif dan dinamika kesusastraan,” ungkapnya.
Komunitas Pelangi Sastra selaku inisiator acara tidak sendiri, tetapi juga melibatkan berbagai komunitas yang ada di kota Malang. Diantaranya ada perpustakaan jalanan, komunitas literasi, komunitas seni rupa, komunitas seni, komunitas teater, musisi, perupa, penyair, dan penulis.
“Kita ajak teman-teman untuk terlibat, banyak yang kita libatkan untuk bersama-sama berkolaborasi memeriahkan festival sastra kota Malang ini sesuai yang kita harapkan” lanjut pria asal Lamongan tersebut.
BACA JUGA:
Temu Komunitas dan Diskusi Buku Warnai Pra Festival Sastra Kota Malang
Ditambahkan oleh Muh Dandy selaku ketua pelaksana, festival sastra diharapkan dapat membentuk ruang kesusastraan semakin dinamis. Ada satu ruang khusu yang dapat mempertemukan antar penulis, toko buku, penerbit, dan pembaca sehingga menjadi ajang pertukaran ide dan pengetahuan.
“Festival sastra ini satu-satunya dan pertama di Malang dan mungkin di Jawa Timur yang murni diadakan komunitas. Harapannya ada kesadaran diri dari orang yang pernah berproses di Malang dan orang Malang untuk saling mempertemukan berbagai ide dan pengetahuan,” ujar Dandi. [dan/but]






