Ponorogo (beritajatim.com) – Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo memastikan bahwa ribuan ikan yang mati di Telaga Ngebel itu karena murni fenomena alam. Yakni bercampurnya air telaga itu dengan belerang.
Hal tersebut dipastikan dengan hasil uji kualitas air yang dilakukan oleh petugas dari Dipertahankan Kabupaten Ponorogo yang dilakukan Senin (2/1) kemarin. Hasilnya didapatkan bahwa warna airnya kekuningan, dan keruh. Selain itu pH-nya juga sangat rendah, yakni diangka 3.
“Warnanya kekuningan dan keruh, serta pH-nya rendah, itu merupakan ciri khas bercampur belerang,” kata Kepala Dipertahankan Kabupaten Ponorogo Masun, Selasa (3/1/2023).
Adanya belerang yang ketemu dengan air ini, akan menghasilkan reaksi hidrogen sulfida. Nah, hidrogen sulfida ini sifatnya asam. Adanya keasaman inilah, yang tidak cocok untuk ekosistem bagi ikan. Tidak heran, jika ikan-ikan yang dibudidaya di Telaga Ngebel ini mati.
[berita-terkait number=”5″ tag=”fenomena”]
“Ini murni aktivitas alam karena adanya belerang. Bukan karena hal lain. Kalau ada yang mengaitkan dengan adanya kembang api di malam tahun baru, ya tidak karena itu,” katanya.
Untuk diketahui sebelumnya, terjadi fenomena ikan yang dibudidayakan di keramba Telaga Ngebel mati secara mendadak. Ribuan ikan yang mayoritas jenis ikan nila ini, mati mendadak sejak Minggu (1/1) malam. Ikan yang dibudidaya ini merupakan milik warga sekitar Telaga Ngebel. Akibat kejadian ini, dipastikan setiap warga yang melakukan budidaya ikan di Telaga Ngebel ini merugi jutaan. Kuat dugaan matinya ikan secara mendadak ini, akibat dari bercampurnya air Telaga Ngebel dengan belerang.
“Belerangnya mungkin naik, yang menyebabkan ikan-ikan ini mati. Terjadi sejak Senin (1/1) malam kemarin,” kata salah satu pembudidaya ikan nila di Telaga Ngebel, Yusdianto.
Kebanyakan ikan yang mati mendadak merupakan ikan yang sudah siap konsumsi. Warga yang terdampak ini pun cuma bisa pasrah, dan harus merugi jutaan rupiah. Mereka akhirnya mengangkat ikan yang mati mendadak dan selanjutnya dikubur. “Ya ada yang belum mati, tapi jumlahnya sedikit. Banyak yang mati,” katanya.
Untuk ikan yang masih hidup, kata Yusdianto yang ukuran kecil tetap dibiarkan di keramba. Sementara untuk ikan yang besar langsung dinaikkan untuk segera dijual. Ikan yang mati memang harus dikubur, sebab sudah tidak bisa dikonsumsi, karena sudah berbau. “Yang mati diangkat dan dikubur, sebab sudah tidak layak konsumsi, karena sudah berbau,” pungkasnya. (end/kun)






